Seorang pria 35 tahun tewas akibat luka tembak di permukiman Tzur Natan, wilayah Sharon, Israel tengah, Minggu pagi (7/6/2026). Serangan bergerak ini menyasar setidaknya empat titik berbeda dalam rentang waktu singkat, melukai lima orang lain yang kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Meir dan Beilinson. Dua di antaranya kritis.
Semuanya bermula di SPBU dekat kawasan Kochav Yair, tak jauh dari Qalqilya di Tepi Barat. Pelaku bergerak menggunakan Toyota berplat kuning, menembaki pejalan kaki dan pengendara sambil terus melaju. Dari Kochav Yair, ia bergerak ke Tzur Yitzhak, menyisir jalan raya 5533, lalu berakhir di Tzur Natan dan Sal'it.
Kepolisian Israel melumpuhkan pelaku di lokasi. Dia diidentifikasi sebagai Omar Yassin, pemuda 20-an tahun asal Tayibe, warga Palestina pemegang kewarganegaraan Israel. Kepala Kepolisian Danny Levi menegaskan Yassin bertindak sendirian. Namun Channel 12 dan Channel 14 sempat melaporkan dua penyerang. Tidak seluruhnya keliru: tak lama setelah itu, polisi menangkap tersangka kedua yang hendak melancarkan aksi penusukan di sekitar Tira. Senjata milik Yassin berhasil disita.
Yassin dikenal memiliki rekam jejak kriminal dan bergerak di lingkaran perdagangan senjata ilegal. Tidak ada peringatan intelijen dini sebelum serangan terjadi. Bagi aparat yang tengah menghadapi tekanan elektoral, pengakuan itu cukup memalukan.
Benjamin Netanyahu langsung memuji petugas yang menghentikan kedua tersangka. Lebih keras lagi, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, yang turun langsung ke Tzur Yitzhak, mengancam hukuman gantung bagi pelaku teror. Ben-Gvir juga menyebut salah satu korban sebagai "pahlawan Israel" yang memiliki peran besar, tanpa merinci lebih jauh.
Militer Israel bergerak cepat. Dua pos pemeriksaan di pintu masuk Tulkarem ditutup, pos baru didirikan di Qalqilya, dan pasukan dikerahkan ke Sal'it, Tzur Yitzhak, serta Kochav Yair.
Hamas bersama Brigade Al-Qassam menyatakan restu atas operasi tersebut, menyebutnya balasan atas agresi militer Israel yang terus berlanjut di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem. Restu, bukan klaim langsung. Distingsi yang kerap dipakai ketika pelaku bukan anggota resmi kelompok.
Dua analis, Muhannad Mustafa dan Muhammad Halsah, menunjuk ironi struktural yang lebih dalam. Peredaran senjata ilegal di komunitas Arab-Israel selama ini dibiarkan aparat karena dianggap sekadar urusan kriminalitas internal. Bukan ancaman keamanan. Kini senjata itu diputar balik. Klaim yang masih butuh verifikasi independen, tapi agaknya terlalu tajam untuk diabaikan begitu saja.
Bagi Netanyahu dan Ben-Gvir, serangan dari pemegang kewarganegaraan Israel sendiri adalah skenario yang paling sulit dihadapi. Penutupan pos pemeriksaan tidak banyak membantu kalau ancamannya datang dari dalam. Pertanyaannya: berapa banyak lagi "Omar Yassin" yang belum terpantau radar intelijen?