RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Pentagon Blacklist 188 Raksasa China: BYD, Alibaba...

Bisnis

Pentagon Blacklist 188 Raksasa China: BYD, Alibaba, Baidu Kena Getahnya

Kementerian Pertahanan AS merilis daftar 188 perusahaan China yang dianggap terafiliasi dengan militer, menjerat nama-nama besar seperti BYD, Alibaba, Baidu, hingga WuXi AppTec. Bukan sanksi langsung, tapi risikonya tidak kecil.

BYD Masuk 'Daftar Hitam' di AS, Ini Sebabnya

Senin, 8 Juni 2026, Pentagon merilis daftar terbaru perusahaan China yang dianggap mendukung basis industri militer negara tersebut. Total 188 entitas masuk tahun ini, melonjak tajam dari sekitar 130 perusahaan pada tahun lalu. Nama-nama yang terseret bukan sembarangan: BYD, Alibaba, Baidu, WuXi AppTec, produsen baterai EVE Energy, produsen lidar Hesai dan Robosense, pembuat router TP-Link, hingga perusahaan robotika Unitree.

Daftar ini bukan barang baru. Sejak 2021, Pentagon memang rutin merilis daftar semacam ini berdasarkan mandat Kongres lewat Pasal 1260H, sebagai mekanisme untuk mengidentifikasi perusahaan China yang dinilai berkontribusi pada kekuatan pertahanan Beijing. Yang membuat versi terbaru ini berbeda: daftar tersebut sempat diterbitkan pada Februari lalu, lalu ditarik tanpa penjelasan. Kini muncul lagi, lengkap dengan kembalinya dua produsen cip memori yang sebelumnya sempat dicoret, ChangXin Memory Technologies dan Yangtze Memory Technologies.

Alasan Pentagon memasukkan BYD cukup spesifik. Produsen kendaraan listrik asal Shenzhen itu disebut punya hubungan langsung dan tidak langsung dengan Komisi Pengawasan dan Administrasi Aset Milik Negara (SASAC) China, plus afiliasi tidak langsung dengan Kementerian Industri dan Teknologi Informasi (MIIT). Pentagon bahkan melabeli BYD sebagai "kontributor fusi militer-sipil" lantaran keterkaitannya dengan zona usaha fusi militer-sipil. Ironis, mengingat Trump sempat menyatakan akan menyambut BYD kalau mereka mau bikin pabrik di AS dan mempekerjakan warga Amerika. Pernyataan itu kini terasa agak canggung.

Alibaba kena tuduhan serupa: dianggap membantu meningkatkan basis industri pertahanan China karena afiliasinya dengan MIIT. Perusahaan yang sahamnya masih diperdagangkan di Bursa Saham New York itu langsung membantah keras. "Alibaba bukanlah perusahaan militer China atau bagian dari strategi fusi militer-sipil," demikian pernyataan resmi mereka. Baidu, yang belakangan agresif masuk ke segmen AI dan taksi otonom, tak kalah tajam merespons. "Memasukkan Baidu ke dalam daftar perusahaan militer sama sekali tidak berdasar. Kami tidak akan ragu menggunakan seluruh opsi yang tersedia untuk menghapus perusahaan dari daftar tersebut," ungkap manajemen Baidu.

Unitree mungkin nama yang paling bikin publik awam mengernyit. Perusahaan robotika ini dikenal lewat robot humanoid dan robot anjingnya yang viral, termasuk sempat memukau Simon Cowell di acara "America's Got Talent" di NBC. Pentagon mengklaim Unitree secara sadar menerima bantuan pemerintah China melalui penunjukannya sebagai perusahaan kecil atau menengah yang sangat inovatif, kompetitif di tingkat global, dan krusial bagi rantai pasok negara. Nvidia pun ikut terseret dalam pusaran ini secara tidak langsung, setelah sebelumnya mengumumkan kerja sama dengan Unitree pada awal Juni. BYD dan Unitree sendiri, menurut Associated Press, belum memberikan tanggapan atas rilis daftar ini.

188 nama. Angka yang tidak main-main. Kedutaan Besar China di AS langsung bereaksi: Beijing menuduh Washington memelintir konsep keamanan nasional dan membuat daftar diskriminatif. Kalau data geopolitik ini bisa dipercaya sebagai cermin hubungan bilateral, pengumuman ini keluar di waktu yang agaknya sengaja dipilih, hanya beberapa pekan setelah Trump bertemu Xi Jinping di Beijing, di mana keduanya sepakat menjaga stabilitas hubungan bilateral, dan Trump bahkan mengundang Xi ke Washington pada September mendatang. Batu kerikil di jalan yang baru mulai dibenahi.

Masuk daftar ini tidak otomatis berarti sanksi. Tidak ada larangan berbisnis langsung yang menyertai. Dampaknya lebih ke arah reputasional dan struktural: pembatasan pengadaan pemerintah AS di masa depan, plus potensi kesulitan menjalin kemitraan dengan entitas Amerika. Perusahaan yang terjaring pun bisa mengajukan permohonan penghapusan kepada Pentagon. Tapi mengingat EVE Energy, yang baterai-baterainya sudah mengaliri Tesla, BMW, dan Mercedes-Benz, juga ikut kena, pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang masuk daftar. Pertanyaannya: sampai mana jaring ini akan ditebarkan?