Harga RAM global naik enam kali lipat dalam setahun. Bukan angka dramatis dari analis yang gemar hiperbola, melainkan data Morgan Stanley yang dikutip langsung oleh Vice President Devices and Services Google, Shakil Barkat, saat menjelaskan mengapa konsumen Pixel harus bersiap merogoh kocek lebih dalam mulai Agustus ini.
Sepanjang 2025, harga 1 GB RAM masih di kisaran USD 2,80. Tahun ini, angka itu melonjak ke USD 12. Bagi Google yang membenamkan kapasitas memori besar di lini flagshipnya, ini bukan gangguan rantai pasok biasa. Pukulan langsung ke margin.
"Belum pernah ada kenaikan harga memori seperti yang terjadi di dunia saat ini," kata Barkat dalam wawancara dengan 9to5Google. Selama ini, ia mengakui, Google berupaya menyerap beban itu agar tidak dilempar ke konsumen. Tapi ada batasnya. "Kondisi ekonomi kini telah berubah secara mendasar, dan kami pun tidak kebal terhadap hal itu," tambahnya.
Hasilnya: seluruh keluarga perangkat Pixel akan mengalami penyesuaian harga yang, menurut Barkat, "akan diluncurkan secara dinamis untuk menyesuaikan dengan realitas pasokan." Frasa itu agaknya sengaja dibuat kabur. Google belum mau mengumumkan angka spesifik sebelum acara Made by Google pada 12 Agustus 2026.
Bocoran sudah lebih dulu bersuara. Pixel 11 Pro XL dan Pixel 11 Pro Fold diperkirakan naik sekitar USD 100 atau setara Rp1,8 juta dari harga pendahulunya. Pixel 11 standar dan Pixel 11 Pro juga diprediksi kena kenaikan serupa, dengan catatan: varian 128 GB dihapus sepenuhnya, digantikan 256 GB sebagai kapasitas dasar. Kalau dibandingkan dengan varian 256 GB generasi sebelumnya, harganya tidak bergeser. Tergantung dari mana menghitungnya.
Nah, yang cukup mengejutkan soal spesifikasi. Pixel 11 Pro yang sebelumnya hadir dengan 16 GB RAM kabarnya turun ke 12 GB. Justru ketika persaingan melawan Samsung dan iPhone makin ketat. Google berdalih ini bukan kemunduran, melainkan bagian dari strategi optimasi: pendekatan AI, perangkat lunak, dan silikon full-stack mereka diklaim mampu menjalankan model kecerdasan buatan secara efisien meski dengan memori lebih sedikit. "Perangkat dapat memiliki RAM yang lebih sedikit sambil tetap mempertahankan pengalaman pengguna yang hebat," kata Barkat. Klaim yang masih perlu dibuktikan di lapangan.
Dampak kenaikan harga ini bukan cuma soal Pixel 11. Model yang sudah beredar pun ikut terseret, dan sinyal paling kuat mengarah ke Pixel 10a. Google tidak menyebut kapan tepatnya harga lama akan naik, tapi pesannya cukup jelas: kalau masih berencana beli, lebih baik tidak menunggu.
Dari sisi desain, bocoran render yang dipublikasikan MySmartPrice bekerja sama dengan tipster OnLeaks memperlihatkan Google tidak banting setir dari bahasa visual yang sudah dikenal. Floating camera bar berbentuk pil tetap hadir di ketiga model, lengkap dengan sisi datar, sudut membulat, dan layar punch-hole di tengah. Sistem tiga kamera belakang pun dipertahankan. Pembaruan terbesar justru pada palet warna: Pixel 11 standar tampil dengan Fuchsia yang mencolok, biru lembut, hijau kalem, dan Midnight. Seri Pro mengadopsi nuansa lebih tenang dengan Dune, Pine, Light Fog, dan Midnight Haze. Varian Dune dengan panel belakang coral-copper dan aksen emas poles disebut-sebut sebagai warna peluncuran andalan, mengingat undangan acara Made by Google sendiri sudah mengisyaratkan nuansa keemasan.
Di balik casing itu, bocoran terpisah menyebut Tensor G6 berbasis proses 2nm dari TSMC sebagai otak penggerak seri Pixel 11. Kalau akurat, ini lompatan proses yang cukup besar dan bisa jadi kartu truf terkuat Google bulan depan.
Google tetap berjanji menghadirkan program promosi, penawaran tukar tambah, dan paket Google One untuk meringankan beban konsumen. Tapi, kalau boleh jujur, ketika harga naik dan RAM justru amblas, janji-janji semacam itu butuh lebih dari sekadar kata-kata untuk meyakinkan calon pembeli yang sudah semakin kritis.