RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Ponsel Bekas Jadi Server: UCSD dan Google Bangun D...

Tekno

Ponsel Bekas Jadi Server: UCSD dan Google Bangun Data Center dari 2.000 HP Lawas

Peneliti UC San Diego bersama Google sedang mengembangkan kluster komputasi dari ribuan ponsel Pixel bekas, menawarkan alternatif infrastruktur data center yang murah dan rendah karbon.

Pusat data yang menggunakan pendingin raksasa

Sekitar 25 hingga 50 smartphone bekas, kata para peneliti, bisa menyamai daya komputasi satu CPU server kelas enterprise dual-socket. Angka yang cukup untuk membuat banyak orang mengernyitkan dahi, sekaligus mempertanyakan ulang tumpukan gadget lawas yang selama ini terbengkalai di laci.

Tim dari University of California San Diego (UCSD), bekerja sama dengan Google, sedang menggarap sesuatu yang terdengar tidak lazim: membangun data center dari kumpulan ponsel bekas. Bukan sekadar eksperimen lab kecil. Target mereka adalah mengumpulkan sekitar 2.000 unit Google Pixel bekas untuk membentuk kluster komputasi lokal yang bisa melayani ratusan mahasiswa dan peneliti sekaligus. Peluncurannya dijadwalkan pada musim gugur 2026.

Proses konversinya tidak terlalu rumit, meski butuh kerja tangan. Setiap ponsel dibongkar hingga ke motherboard-nya, layar, baterai, kamera, speaker, dan casing disingkirkan karena komponen itu tidak relevan di lingkungan server, bahkan berpotensi mengganggu. Yang tersisa hanyalah chip utama beserta logika komputasi intinya. Android kemudian diganti dengan distribusi Linux yang lazim dipakai di lingkungan data center, lengkap dengan orkestrasi Kubernetes. Dari sana, perangkat bisa menjalankan beban kerja server standar seperti mesin komputasi sungguhan.

Hasilnya cukup mengejutkan. Smartphone berusia sekitar tiga tahun ternyata masih membukukan performa single-core yang kompetitif, bahkan dalam beberapa skenario mampu melampaui server modern tertentu jika dihitung per inti prosesor. Kluster berisi 20 smartphone, menurut temuan UCSD, sudah cukup untuk menjalankan aplikasi yang dibutuhkan satu kelas berisi lebih dari 75 mahasiswa. Bagi kampus dengan anggaran terbatas, ini berarti tidak perlu lagi sepenuhnya bergantung pada layanan cloud komersial yang terus menggrogoti biaya operasional.

Lantas mengapa sekarang? Bukan kebetulan penelitian ini muncul tepat saat booming infrastruktur AI sedang panas-panasnya. Google, Microsoft, OpenAI, Amazon, semuanya berlomba membangun atau memperluas data center raksasa demi menopang model-model AI yang kian rakus sumber daya. Konsumen rata-rata mengganti ponsel setiap dua hingga tiga tahun, padahal perangkat kerasnya sering kali masih dalam kondisi prima. Limbah elektronik global terus menumpuk. Ironis, memang.

Google secara khusus menyoroti konsep "karbon tersemat" dalam narasi proyek ini. Emisi yang dihasilkan selama proses manufaktur sebuah ponsel tidaklah kecil, dan sebagian besar dari beban karbon itu terbuang percuma ketika perangkat dipensiunkan terlalu cepat. Dengan memperpanjang masa pakai hardware yang sudah ada, tim peneliti berargumen bahwa jejak karbon infrastruktur komputasi bisa ditekan tanpa harus mengorbankan kapabilitas.

Proyek serupa pernah dilakukan peneliti dari University of Tartu. Mereka mengubah ponsel bekas menjadi pusat data mini untuk pemantauan kehidupan laut hingga pengumpulan data transportasi secara real-time. Biaya perakitan per perangkat? Sekitar 8 euro, atau kira-kira Rp140 ribu. Murah.

Tapi ada catatan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tidak ada yang mengklaim kluster ponsel bekas ini akan bersaing dengan infrastruktur hyperscale. Melatih model sekelas ChatGPT atau Gemini butuh GPU khusus dan akselerator AI kelas berat yang sama sekali berbeda kelasnya. Sistem ini lebih cocok untuk beban kerja pendidikan, penelitian skala kecil, komputasi tepi, atau pemrosesan data lokal. Soal efisiensi daya pun belum terjawab tuntas, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, pengujian konsumsi listrik dari kluster semacam ini agaknya belum dilakukan secara menyeluruh.

Bagaimanapun, ide ini menarik bukan karena revolusioner secara teknis. Ia menantang asumsi lama industri bahwa kemajuan komputasi selalu berarti membeli perangkat baru. Bisa jadi, jawaban atas sebagian kebutuhan komputasi masa depan sudah ada di tumpukan gadget pensiun yang kita abaikan selama ini.