RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Prabowo ke Moskow Kejar Minyak, Airlangga: Tunggu...

Bisnis

Prabowo ke Moskow Kejar Minyak, Airlangga: Tunggu Perkembangan

Di tengah ancaman blokade Selat Hormuz dan negosiasi dagang dengan AS, Indonesia mendekati Rusia untuk amankan pasokan minyak mentah. Airlangga memilih jawaban hati-hati.

Tengah malam Minggu, pesawat kepresidenan lepas landas menuju Moskow. Presiden Prabowo Subianto, didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, terbang ke Rusia untuk satu agenda yang kini jadi prioritas nasional: memastikan Indonesia tidak kehabisan minyak.

Pertemuan Prabowo dengan Presiden Vladimir Putin berlangsung Senin malam (13/4/2026). Fokus pembahasannya satu: ketersediaan pasokan minyak di tengah-tengah gejolak yang belum juga mereda.

Lantas, bagaimana nasib negosiasi dagang Indonesia-Amerika yang masih berjalan? Apa tidak khawatir tersandung sanksi AS kalau deal minyak Rusia ini beneran terjadi?

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memilih jawaban paling aman. "Nanti kita tunggu perkembangan selanjutnya," ujarnya saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Senin (13/4/2026). Singkat. Tidak ada komitmen ke mana pun.

Bisa jadi itu pilihan terbaik di situasi seperti ini.

Konteks geopolitiknya perlu dipahami dulu. Iran memblokade Selat Hormuz, jalur yang dilintasi sekitar 20% lalu lintas kapal tanker minyak dunia. Perang Iran kontra AS dan Israel belum ada tanda-tanda reda. Ketidakpastian ini yang membuat harga minyak bergejolak dan negara-negara net importer seperti Indonesia mulai resah soal ketahanan energi.

Secara teknis, kapal tanker pemasok minyak Indonesia memang tidak banyak melewati Selat Hormuz. Tapi pasar minyak global tidak bekerja seperti itu. Gangguan di satu titik menular ke seluruh rantai pasokan, mendorong harga naik, dan membuat anggaran subsidi energi jebol. Domino effect, istilah yang sudah klise tapi susah dibantah.

Maka diplomasi energi ke Moskow ini, menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, bukan kunjungan seremonial biasa. Teddy menegaskan bahwa tujuan utamanya melanjutkan kerja sama dengan Rusia sekaligus memastikan pasokan energi nasional tetap stabil.

Masalahnya, minyak Rusia bukan komoditas bebas hambatan. Sejak invasi Ukraina, Washington dan Brussel memberlakukan pembatasan ketat terhadap pembelian minyak Rusia. India dan China masih menyerapnya dalam jumlah besar, dan keduanya relatif aman, karena ukuran ekonomi mereka membuat siapa pun pikir dua kali sebelum menjatuhkan sanksi penuh.

Indonesia? Posisinya lain cerita. Negosiasi tarif dagang dengan Washington masih berlangsung. Kalau di saat bersamaan Jakarta menandatangani kontrak pembelian minyak Rusia, entah kebetulan atau tidak, itu bisa jadi kartu yang dipakai AS untuk menekan posisi tawar Indonesia di meja perundingan. Pertanyaannya, seberapa berani Jakarta mengambil risiko itu?

Airlangga agaknya paham betul dinamika ini. Jawaban "tunggu perkembangan" bisa dibaca sebagai konfirmasi bahwa tidak ada keputusan final hari ini, tapi pintu juga belum ditutup. Setidaknya itu kesan yang ingin disampaikan.

Bagi investor, pergerakan ini layak diikuti, terutama di sektor energi dan refinery. Kepastian pasokan minyak mentah berdampak langsung ke margin kilang seperti PT Pertamina, yang secara tidak langsung menyentuh saham-saham di rantai hilirnya. Kalau deal Rusia batal dan pasokan alternatif tidak ditemukan, tekanan pada subsidi energi bisa melebar ke fiskal. Dan itu, bak gayung bersambut dengan kekhawatiran pasar soal defisit, cerita yang sama sekali berbeda.