RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Project Helix: Konsol Xbox Baru Kejar Performa PC...

Tekno

Project Helix: Konsol Xbox Baru Kejar Performa PC Rp48 Juta, Banderol Dipatok Separuhnya

Microsoft akhirnya mengklarifikasi bahwa Project Helix adalah konsol first party resmi Xbox, bukan produk pihak ketiga. Bocoran teknis menyebut perangkat ini berambisi menandingi performa PC gaming seharga $3.000, tapi dijual jauh lebih murah.

VP Xbox Jason Ronald akhirnya angkat bicara soal Project Helix. Konsol ini adalah perangkat first party resmi Microsoft, bukan produk buatan ASUS, MSI, atau mitra hardware mana pun. Titik.

Klarifikasi itu muncul setelah komunitas Xbox dilanda kebingungan berminggu-minggu. Sumber masalahnya: bocoran dari forum NeoGAF yang menyebut perangkat berbasis Helix kemungkinan tidak dijual langsung oleh Xbox, melainkan didistribusikan lewat mitra semacam ASUS atau MSI. Spekulasi itu langsung memantik asumsi bahwa Project Helix lebih mirip platform terbuka ketimbang konsol tradisional. Ronald meluruskannya tanpa basa-basi.

Tapi satu celah tetap terbuka. Apakah chip Helix, yang diketahui memakai custom AMD SoC dengan teknologi FSR Next dan Deep Texture Compression, juga bakal tersedia bagi produsen hardware lain? Pertanyaan ini masih menggantung. Agaknya memang sengaja dibiarkan begitu.

Dari sisi performa, ambisinya bukan main-main. Podcast Moore's Law Is Dead menyebut Project Helix pada dasarnya adalah "PC kelas atas" yang dikemas dalam wujud konsol. Microsoft mengincar performa setara PC gaming seharga sekitar $3.000, atau sekitar Rp48 juta, tapi dengan banderol yang jauh lebih rendah. Kisaran harga yang disebut-sebut: $1.000 hingga $1.500.

Bukan angka kecil untuk konsol. Kalau klaimnya terbukti, selisih performa terhadap harga itu bakal sulit ditolak siapa pun yang serius soal gaming.

Sekarang soal jeroan. Leaker KeplerL2 di NeoGAF memberikan gambaran teknis yang cukup rinci. Project Helix disebut mengusung AMD Magnus APU yang diproduksi pada node TSMC N3C atau N3P. Chipnya terdiri dari dua die terpisah: die SoC berukuran 144 mm² untuk inti CPU, NPU, dan komponen I/O utama, lalu die GPU berukuran 264 mm² yang menangani logika grafis serta pengendali memori tambahan. Untuk urusan grafis, GPU itu membawa 70 compute unit berbasis RDNA 5 dengan 68 unit aktif pada konfigurasi ritel akhir. Masif.

Satu detail yang patut dicermati: GPU Project Helix disebut tidak memiliki kustomisasi sama sekali. Ini beda jauh dari pendekatan konsol modern pada umumnya, di mana CPU dan GPU biasanya disesuaikan untuk kebutuhan spesifik perangkat.

Kenapa ini penting? GPU yang lebih generik dan dekat dengan ekosistem PC, secara teori, bakal mempermudah proses porting game. Studio pengembang tidak perlu terlalu banyak kerja ulang untuk menyesuaikan perilaku game pada perangkat yang secara teknis sangat berbeda. Pertanyaannya, berapa banyak waktu dan biaya yang bisa dipangkas dari siklus pengembangan? Efisiensi macam itu bukan cuma untungkan gamer, tapi juga kantong developer.

CEO baru Xbox Asha Sharma sebelumnya sudah mengungkap Project Helix sebagai fondasi konsol generasi berikutnya. Developer game disebut bakal mulai menerima versi alpha perangkat ini pada 2027, sebuah timeline yang mengisyaratkan proyek sudah berjalan cukup jauh di internal Microsoft.

Soal konfirmasi resmi, Microsoft sudah mengakui kolaborasi dengan AMD dan menjanjikan lompatan performa eksponensial dibanding generasi Xbox saat ini. Sisanya, mulai dari spesifikasi Magnus APU, ukuran die, hingga node produksi TSMC, masih berstatus bocoran. Belum ada cap resmi dari Redmond.

Kalau separuh saja dari bocoran ini akurat, Project Helix bukan sekadar iterasi konsol biasa. Ini bisa jadi taruhan terbesar Microsoft di pasar gaming sejak mereka pertama kali meluncurkan Xbox lebih dari dua dekade lalu. Bisa jadi juga, entah kebetulan atau tidak, jawaban telak buat Sony yang belum menunjukkan kartu untuk generasi berikutnya.