Dalam satu hari, PT Petrosea Tbk (PTRO) mengeksekusi dua langkah sekaligus yang mengunci hubungannya dengan PT Singaraja Putra Tbk (SINI) jauh lebih dalam dari sekadar mitra bisnis.
Pada 23 Juli 2026, Petrosea menggelontorkan sekitar Rp1,19 triliun untuk memborong 237,9 juta lembar saham SINI di harga Rp5.000 per lembar. Dari posisi awal yang nyaris tak berarti, 0,25 persen, kepemilikan PTRO di emiten milik Happy Hapsoro itu langsung melonjak ke 19,88 persen. Bukan sekadar tambah porsi. Ini masuk kategori kepemilikan signifikan.
Di hari yang sama, dua anak usaha tidak langsung SINI, PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP), meneken perjanjian jasa pertambangan batu bara dengan PTRO. Total estimasi nilai kontrak dihitung mengacu Indonesian Coal Index (ICI) per tanggal penandatanganan, mencapai sekitar Rp9,3 triliun. Rinciannya: Rp7,7 triliun dari kontrak dengan PBC, sisanya Rp1,6 triliun dari CBP.
Kedua konsesi berlokasi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, dengan durasi sepanjang usia tambang alias life of mine. Petrosea akan mengerjakan pengupasan dan pemindahan lapisan tanah penutup, pemberaian material batuan, serta penambangan batu bara. Untuk PBC, estimasi produksi mencapai 42 juta ton batu bara dari pengupasan 189 juta BCM tanah penutup. CBP lebih kecil, produksi 8 juta ton dari 40 juta BCM.
Dari sisi SINI, proyeksi pendapatannya lebih besar lagi. "Dengan ditandatanganinya perjanjian jasa pertambangan maka akan dapat merealisasikan target produksi batu bara dan karenanya dapat berkontribusi pada kinerja keuangan perseroan," kata Direktur Utama SINI Amir Antolis dalam keterbukaan informasi. Estimasi total pendapatan SINI dari kedua kontrak ini sepanjang masa tambang disebut tembus Rp57,05 triliun, yakni gabungan dari proyeksi US$2,604 miliar untuk PBC dan US$656 juta untuk CBP. Kalau data ini bisa dipercaya, ini bukan angka yang main-main. Tapi perlu diingat, itu proyeksi sepanjang umur tambang, bukan angka satu tahun.
Yang membuat struktur ini menarik adalah lapisan afiliasi di dalamnya. Hapsoro, pengendali SINI, juga punya kepemilikan tidak langsung di PTRO melalui PT Sentosa Bersama Mitra sebesar 2,55 persen. Artinya, kedua emiten ini sudah berbagi pemegang saham sebelum kontrak diteken. Transaksi kemarin mempertebal keterkaitan itu secara formal. Pertanyaannya, sampai mana struktur ini akan berlapis?
Belum selesai di situ. PTRO sebelumnya sudah diproyeksikan masuk sebagai pembeli siaga dalam rights issue jumbo SINI senilai Rp3,61 triliun, dengan proyeksi kepemilikan pasca-rights issue di kisaran 21,76 hingga 24,67 persen. Bersamaan dengan itu, PTRO juga akan melepas anak usahanya, PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), ke SINI seharga Rp1,73 triliun setelah rights issue tuntas. KMS punya masa tambang hingga 2038, dengan target produksi yang akan didorong dari 1 juta ton menjadi 5 juta ton per tahun.
Soal jadwal operasional, PBC diproyeksikan mulai beroperasi komersial pada kuartal IV 2026. CBP menyusul setahun kemudian, kuartal IV 2027.
Pasar tidak menunggu lama. Saham SINI pada perdagangan 25 Juli mentok di auto reject atas, meroket 9,93 persen ke level 7.475. Sepekan terakhir, SINI sudah terkerek 21,54 persen. PTRO sendiri pada sesi yang sama terkoreksi 5,09 persen ke 4.660, agaknya sebagian pelaku pasar memilih ambil untung setelah saham ini duluan melesat 14,5 persen dalam sepekan.