Tiga tahun tiga bulan. Selama itulah Thailand menunggu kabar yang akhirnya datang dengan cara paling menyakitkan.
Putri Bajrakitiyabha Narendiradebyavati, putri sulung Raja Maha Vajiralongkorn, meninggal pada Kamis (11/6/2026) pukul 19.48 waktu Bangkok di Rumah Sakit Memorial Raja Chulalongkorn. Usianya baru 47 tahun. Biro Rumah Tangga Kerajaan Thailand mengumumkan kepergiannya Jumat pagi, dengan pernyataan singkat bahwa sang putri "meninggal dengan tenang."
Segalanya bermula dari satu insiden di Desember 2022. Putri Bha, begitu ia akrab disapa, pingsan saat melatih anjing peliharaannya di Distrik Pak Chong, Provinsi Nakhon Ratchasima, 14 Desember, sehari sebelum ia akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Dokter menduga penyebabnya adalah detak jantung yang sangat tidak teratur akibat infeksi mikoplasma, bakteri yang lebih sering dikaitkan dengan pneumonia. Sejak 15 Desember 2022, ia tidak pernah lagi meninggalkan rumah sakit. Tidak sekali pun.
Istana hampir tidak pernah merilis perkembangan kondisinya secara terbuka. Sinyal paling nyata justru datang dari kartu ucapan Tahun Baru 2023 kerajaan, yang menampilkan Raja Vajiralongkorn dan Ratu Suthida mengenakan pakaian hitam. Bagi rakyat Thailand, itu sudah cukup untuk dipahami.
Kondisi sang putri terus merosot. Pada April 2026, dokter mendeteksi infeksi perut akibat peradangan usus besar, yang memicu tekanan darah rendah, detak jantung tidak teratur, dan pembekuan darah abnormal. "Sejak 21 Mei 2026, tim medis kerajaan terus memantau kesehatan Putri Bha secara ketat karena infeksi parah yang tidak terkendali dan memengaruhi fungsi beberapa sistem organ utama," demikian pernyataan resmi Biro Rumah Tangga Kerajaan.
Jenazahnya akan disemayamkan di Balai Singgasana Phiman Rattaya di Istana Besar, Bangkok, dengan upacara pemakaman kerajaan berpenghormatan tertinggi sesuai tradisi.
Kepergian Putri Bha bukan sekadar duka keluarga. Bagi Thailand, ini pukulan yang jauh lebih dalam.
Lahir dari pernikahan pertama Vajiralongkorn dengan sepupunya, Putri Soamsawali, ia tumbuh menjadi anggota keluarga kerajaan dengan rekam jejak paling substansial. Putri Bha menempuh studi hukum di Universitas Thammasat, lalu meraih gelar master pada 2002 dan doktor pada 2005 dari Universitas Cornell, dengan disertasi tentang perlindungan hak-hak terdakwa. Setelah sempat bekerja di Misi Thailand untuk PBB di New York dan sebagai jaksa penuntut umum di tanah air, ia menjabat Duta Besar Thailand untuk Austria dari 2012 sampai 2014. Pada 2017, ia dilantik sebagai Duta Besar UNODC untuk Penegakan Hukum di Asia Tenggara. Advokasi reformasi pemasyarakatan yang ia dorong, khususnya untuk perempuan rentan yang berakhir di balik jeruji, berujung pada adopsi "Aturan Bangkok" oleh Majelis Umum PBB tentang standar perawatan narapidana perempuan. Capaian yang tidak banyak anggota keluarga kerajaan manapun bisa mengklaimnya.
"Masyarakat tidak dapat berkembang jika ada ketidakstabilan dan ketidakadilan," katanya dalam wawancara pada 2013. "Tanpa supremasi hukum, tanpa sistem peradilan yang baik, selalu ada kekacauan."
Di kalangan loyalis kerajaan, Putri Bha dipandang sebagai sosok yang bisa mengembalikan wibawa institusi kerajaan yang mulai terkikis di kalangan generasi muda Thailand. "Dia adalah harapan yang dapat membawa keluarga kerajaan ke masa depan," ujar Kasidit Ananthanathorn, dosen Universitas Ramkhamhaeng yang mendalami studi monarki.
Sekarang harapan itu sudah tiada.
Suksesi takhta Thailand, yang memang sudah rumit sebelumnya, kini bertambah pelik. Raja Vajiralongkorn, 73 tahun, belum pernah secara resmi menunjuk ahli waris. Adat kerajaan mensyaratkan pewaris berjenis kelamin laki-laki, meski amandemen konstitusi 1974 membuka kemungkinan seorang perempuan naik takhta bila tidak ada penerus lain.
Raja memiliki lima putra, tapi empat di antaranya, dari pernikahan kedua yang berakhir cerai pada 1996, tidak diakui dan kini menetap bersama ibu mereka di Amerika Serikat. Pertanyaannya, siapa yang tersisa? Satu nama: Pangeran Dipangkorn, 20 tahun, putra dari istri ketiga. Kemampuannya untuk mengemban peran sebagai raja di negara dengan institusi monarki sekuat Thailand masih diragukan secara luas, lantaran dilaporkan memiliki kesulitan belajar.
Selama bertahun-tahun, banyak kalangan melihat Putri Bha sebagai solusi, baik sebagai ratu pertama Thailand maupun sebagai wali pendamping Dipangkorn. Opsi itu kini tertutup selamanya. Diskusi terbuka soal suksesi pun nyaris mustahil, mengingat undang-undang lese majeste Thailand mengancam hukuman hingga 15 tahun penjara untuk setiap kritik terhadap keluarga kerajaan.
Thailand belum pernah diperintah seorang ratu. Dan dengan perginya Putri Bha, pertanyaan tentang siapa yang akan duduk di takhta setelah Vajiralongkorn tetap menggantung, tanpa jawaban yang jelas.