Saham Qualcomm melonjak 13% di sesi prapasar. Bukan karena earnings, bukan karena akuisisi. Cukup satu laporan analis soal kemungkinan kemitraan dengan OpenAI.
Ming-Chi Kuo dari TF International Securities merilis laporan Minggu 26 April 2026 yang menyebutkan OpenAI tengah dalam pembicaraan dengan Qualcomm dan MediaTek untuk mengembangkan chipset khusus bagi smartphone pertama mereka. Produksi massal, menurut Kuo, berpotensi bergulir sekitar 2028. Semua perusahaan yang disebut belum memberikan komentar resmi.
Bukan chip sembarangan. Chipset ini dirancang agar pemrosesan AI bisa berjalan langsung di perangkat, tanpa selalu bergantung pada koneksi cloud. Hemat daya, efisien memori, mampu membagi beban kerja: tugas ringan diselesaikan lokal, tugas berat dikirim ke server. Arsitektur hybrid yang agaknya menjadi kunci agar konsep "agentic AI" bisa berjalan mulus di baterai ukuran ponsel.
Untuk desain dan manufaktur, Luxshare Precision disebut sebagai mitra eksklusif. Nama yang tidak asing, mengingat perusahaan China ini sudah lama masuk rantai pasok Apple. Keterlibatan Luxshare, menurut Kuo, memperkuat sinyal bahwa proyek ini bukan sekadar wacana.
Yang membuat rancangan ini menarik bukan chipnya. Pendekatannya terhadap antarmuka itulah yang berbeda. OpenAI dilaporkan membuang konsep aplikasi tradisional sepenuhnya, menggantinya dengan "task stream", layar beranda yang bukan berisi ikon aplikasi melainkan daftar tugas dan statusnya secara langsung. Ingin pesan makanan? Tidak perlu buka aplikasi tertentu. Cukup beri instruksi, sistem memilih layanan, memproses pembayaran, memantau pengiriman. Semua dikerjakan oleh "agent" yang bekerja di belakang layar.
Konsep ini mensyaratkan satu hal yang cukup mengusik. Perangkat harus "selalu memahami konteks pengguna", artinya AI aktif terus-menerus di latar belakang, mempelajari kebiasaan, memahami kebutuhan secara real-time. Fungsionalitas always-on ini bahkan perlu tertanam di level chipset. Nyaman? Bisa jadi. Tapi pertanyaan soal privasi dan keamanan data pasti menyusul.
Proyek ini tidak berdiri sendiri. Mei tahun lalu, OpenAI mengakuisisi startup io Products milik Jony Ive, mantan desainer ikonik Apple, senilai US$6,5 miliar. Ive kini memimpin pengembangan perangkat. Sam Altman dan Ive, entah kebetulan atau tidak, punya ambisi yang jauh lebih luas dari sekadar satu ponsel. Rumor menyebut ekosistem perangkat ini kelak mencakup AI pen, earbud pintar, hingga smart speaker.
Altman sendiri pernah menyebut perangkat pertama mereka bukan ponsel konvensional, melainkan "perangkat inti ketiga" setelah ponsel dan laptop, menurut laporan Wall Street Journal tahun lalu. Klaim besar yang masih perlu dibuktikan pasar.
Kalau OpenAI benar meluncurkan smartphone, medan perangnya sudah jelas: Apple dan Samsung yang kini menguasai sekitar 40% pasar ponsel pintar global. Apple bahkan sudah merespons secara tidak langsung, sahamnya turun 1,7% pada sesi yang sama ketika kabar Qualcomm meledak. Pasar sedang berhitung ulang.
Amazon pun dikabarkan sedang menyiapkan comeback ke pasar ponsel. Dua raksasa AI berambisi masuk hardware dalam waktu berdekatan. Era smartphone berbasis aplikasi yang dibangun selama 15 tahun mungkin memang sedang dihajar dari dua arah sekaligus.