RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  RAM 8GB Jadi Standar Baru Ponsel Dua Jutaan, Perge...

Tekno

RAM 8GB Jadi Standar Baru Ponsel Dua Jutaan, Pergeseran Nyata di Pasar Smartphone RI

Konsumen Indonesia kini makin spesifik soal spesifikasi: RAM 8GB di kisaran Rp2-3 jutaan bukan lagi kemewahan, tapi ekspektasi dasar. Para vendor besar berlomba memenuhi tuntutan itu.

Awal April 2026, lantai penjualan Roxy Square Jakarta Pusat mencatat sesuatu yang jarang terjadi: pembeli datang bukan sekadar tanya harga, tapi langsung sebut spesifikasi. "RAM 8GB ada?"

Bukan tren musiman. Ini pergeseran.

Permintaan smartphone RAM 8GB di rentang harga Rp2 juta hingga Rp3 jutaan menguat konsisten sepanjang awal kuartal kedua tahun ini. Linda, karyawan Global Green Cellular di Roxy Square, menyebut sejumlah model mendominasi pencarian: Redmi Note 15 dan Poco M7 Pro 5G dari Xiaomi, Samsung Galaxy A07, serta Infinix Hot 60 Pro. Seri-seri itu, kata dia, sebulan terakhir jauh lebih banyak dicari karena menawarkan konfigurasi memori lebih besar ketimbang generasi sebelumnya di kelas harga yang sama.

Ryan, pemilik Excellent Cell di pusat perbelanjaan yang sama, melihat fenomena serupa dari sudut berbeda. Ia mencatat pergeseran nyata dari perangkat RAM 4GB ke 8GB di segmen menengah bawah. Konsumen sekarang datang dengan pemahaman teknis yang lebih tajam dibanding dua atau tiga tahun lalu. Bukan cuma tanya merek, tapi langsung bicara chipset dan kapasitas memori.

Masuk akal, sebetulnya.

Ekosistem aplikasi Android modern memang semakin rakus memori. Layanan streaming, media sosial berlapis-lapis, sampai mobile gaming yang grafiknya makin berat, semua butuh ruang lebih besar supaya tidak stuttering saat berpindah aplikasi. RAM 8GB mulai terasa bukan gaya-gayaan. Fungsional.

Vendor besar agaknya sudah membaca arah ini lebih awal. Sepanjang 2026, deretan perangkat di bawah Rp3 juta dengan RAM 8GB yang bisa diekspansi hingga 16GB bermunculan hampir bersamaan. realme 12+ 5G hadir dengan Dimensity 7050 dan kamera utama 50MP berteknologi Sony MasterShot Algorithm, dibanderol Rp2.799.000. Xiaomi Redmi 15 mengandalkan Snapdragon 685 plus baterai 7.000 mAh di angka Rp2.299.000. Oppo A5 Pro datang dengan klaim sertifikasi IP69 dan layar 120Hz seharga Rp2.799.000.

Pemain seperti Tecno dan Infinix justru bermain lebih garang. Tecno Spark 40 Pro+ menawarkan panel AMOLED 140Hz dengan prosesor Helio G200 di kisaran Rp2.899.000. Infinix Hot 50 Pro+ tampil dengan bodi 6,8 mm ramping, layar AMOLED 120Hz, dan Helio G100, seharga sekitar Rp2.599.000. Lewat lini Pova 6 Pro 5G, Tecno bahkan berani masuk kelas ini dengan RAM yang, entah kebetulan atau tidak, jadi selling point paling ditonjolkan.

Fenomena ini punya konteks lebih luas dari sekadar perang spesifikasi. Batas antara segmen entry-level dan mid-range kini nyaris kabur. Layar 120Hz yang setahun lalu masih jadi fitur kelas menengah? Sekarang sudah nongol di ponsel dua jutaan. Konektivitas 5G yang dulu identik dengan perangkat premium mulai merambah kelas yang sama, didorong chipset yang semakin efisien dan persaingan ketat antara Xiaomi, Samsung, dan OPPO.

Melengkapi pilihan di segmen ini, vivo Y29 membawa Snapdragon 685 dan baterai 6.500 mAh di Rp2.899.000, sementara Samsung Galaxy A53 5G dengan Exynos 1280 dan slot microSD hingga 1TB ditawarkan di Rp2.399.000. Samsung mengandalkan kekuatan ekosistem dan reputasi globalnya. Infinix dan Tecno bermain di harga. Realme bermain di desain; bocoran konfigurasi memori C81-nya baru saja terungkap dan disebut-sebut mengusung estetika mirip iPhone.

Pertanyaannya bukan lagi siapa yang punya RAM terbesar di kelas ini. Berapa lama sampai 12GB jadi standar baru yang "wajib" di dua jutaan?