RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rel Kereta Jadi Kunci, PTBA Bidik Volume Penjualan...

Bisnis

Rel Kereta Jadi Kunci, PTBA Bidik Volume Penjualan Lebih Tinggi di H2 2026

Bukit Asam menjual 21,10 juta ton batu bara di semester I 2026, didukung produksi 19,45 juta ton. Analis tetap rekomendasikan buy dengan target harga Rp 3.260, mengandalkan proyek logistik Tanjung Enim-Keramasan sebagai katalis utama.

Proyek Logistik Jadi Katalis, Ini Rekomendasi Saham Bukit Asam (PTBA)

Dua puluh satu juta ton batu bara. Itulah yang berhasil dijual PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) sepanjang enam bulan pertama 2026, ditopang produksi 19,45 juta ton dan sisanya dipenuhi dari stok cadangan.

Mesin operasional PTBA terbukti masih berjalan cukup stabil, meski harga batu bara global belum sepenuhnya berpihak. Sebagian besar penjualan emiten tambang pelat merah ini diikat skema domestic market obligation (DMO), sehingga lonjakan harga spot di pasar ekspor tidak langsung tercermin ke pendapatan perseroan.

Dari total penjualan semester I, pasar domestik menyumbang 10,77 juta ton atau 51 persen, sisanya 10,33 juta ton diekspor. Realisasi DMO PTBA sendiri mencapai sekitar 55 persen dari total produksi, jauh melampaui kewajiban minimum pemerintah yang dipatok 25 persen. Penjualan ke Grup PLN saja sudah menembus 7,78 juta ton.

Volume ekspor naik sekitar 5 persen dibanding semester I 2025, terkerek permintaan dari Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand. Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menyebut capaian ini sebagai "pondasi penting" bagi perseroan untuk terus menciptakan nilai tambah. "Memasuki Semester II 2026, PTBA akan terus memperkuat keandalan operasional, menjaga efisiensi biaya, mengoptimalkan pasar domestik maupun ekspor, serta melanjutkan proyek-proyek strategis guna mendukung pertumbuhan perseroan secara berkelanjutan di tengah dinamika industri batu bara global," kata Bambang.

Dari sisi logistik, PTBA mengangkut 18,15 juta ton hingga Juni 2026, dengan 17,47 juta ton di antaranya lewat jalur kereta api. Stripping ratio tercatat di level 5,26 kali, masih di bawah target tahunan 5,63 kali. Efisiensi penambangan terjaga.

Yang kini paling ditunggu pasar: proyek angkutan batu bara Tanjung Enim-Kramasan. Jalur kereta ini ditargetkan mencapai commercial operation date (COD) pada semester II 2026 dan berpotensi jadi pengungkit kapasitas evakuasi batu bara secara cukup besar. PTBA juga tengah menggarap pembangunan Inpit Conveyor Banko sebagai pelengkap infrastruktur logistiknya.

Sukarno Alatas, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai progres proyek logistik inilah yang paling krusial dicermati investor saat ini. "Dalam jangka pendek, progres proyek logistik masih menjadi katalis fundamental yang paling dicermati pasar," jelas Sukarno. Ia menambahkan, "Apabila diikuti relaksasi kuota RKAB, PTBA berpeluang mencatat volume penjualan yang lebih tinggi dan menjaga profitabilitas melalui efisiensi biaya."

Sepanjang Januari-Juni 2026, realisasi produksi batu bara nasional menyentuh 367,06 juta ton, atau 61,18 persen dari total kuota 600 juta ton lebih yang disetujui Kementerian ESDM untuk tahun ini.

Dari sisi keuangan, kinerja kuartal I 2026 PTBA menarik kalau ditelisik lebih dalam. Pendapatan nyaris stagnan di Rp 9,92 triliun, hampir setara Rp 9,95 triliun di periode yang sama tahun lalu. Tapi laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk? Melonjak lebih dari dua kali lipat, dari Rp 391,47 miliar di kuartal I 2025 menjadi Rp 801,79 miliar. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk PTBA dengan target harga Rp 3.260 per saham untuk 12 bulan ke depan. Pertumbuhan kinerja, menurut mereka, akan lebih banyak datang dari peningkatan volume penjualan ketimbang kenaikan ASP batu bara.

Tentu ada risiko yang perlu masuk kalkulator. Pelemahan harga batu bara global, perlambatan permintaan dari China dan India, tekanan transisi energi, hingga potensi perubahan regulasi DMO dan royalti masih menghantui fundamental emiten sektor ini. Pertanyaannya sederhana: apakah COD jalur Tanjung Enim-Kramasan akan tepat jadwal, dan seberapa besar volume tambahan yang bisa diserap pasar? Jawaban atas dua pertanyaan itu, agaknya, akan sangat menentukan nasib saham PTBA hingga tutup tahun.