Hangzhou baru saja membuktikan bahwa robot polisi bukan lagi fiksi ilmiah. Dan angka-angkanya cukup untuk bikin siapa pun berhenti scroll.
Sepanjang tiga hari pertama bertugas, 15 unit robot polisi lalu lintas bernama Hangjing Zhixing mencatat hampir 12.000 intervensi pelanggaran lalu lintas di jalanan ibu kota Provinsi Zhejiang itu. Rata-ratanya: satu tindakan koreksi setiap 1 menit 43 detik. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Skuad robot ini mulai beroperasi pada 1 Mei 2026, bertepatan dengan libur panjang Hari Buruh yang membuat arus lalu lintas Hangzhou meledak. Pilihan waktu itu agaknya bukan kebetulan, kondisi ramai justru jadi ajang pembuktian terbaik bagi teknologi baru. Robot-robot setinggi 1,88 meter ini disebar di persimpangan strategis, kawasan wisata Danau Barat atau West Lake, area komersial, hingga ruas jalan utama kota.
Secara fisik, Hangjing Zhixing tampil seperti petugas lalu lintas sungguhan: topi polisi, rompi hijau neon khas, sepatu seragam resmi. Tapi ada satu detail yang langsung mencuri perhatian. Meski punya kaki, robot ini tidak berjalan. Mereka berdiri di atas kendaraan kecil mirip segway yang didesain menyerupai mobil polisi mini, memungkinkan pergerakan maju-mundur dan rotasi di persimpangan padat dengan jauh lebih efisien.
Kapasitas komputasi AI-nya mencapai 200 TOPS, atau 200 triliun operasi per detik. Angka yang tidak main-main. Dengan kemampuan itu, sistem pengenalan visualnya mampu mendeteksi pelanggaran secara otomatis: pengendara motor tanpa helm, boncengan lebih dari satu orang, kendaraan melewati garis marka, hingga pejalan kaki yang nekat melintas di jalur kendaraan bermotor. Saat pelanggaran terdeteksi, robot langsung menegur lewat pengeras suara. Kalau peringatan diabaikan tiga kali, data pelanggaran otomatis dikirim ke pusat kendali polisi untuk ditindaklanjuti.
Gerakan isyarat tangannya pun bukan improvisasi. Delapan jenis gerakan standar pengaturan lalu lintas yang sudah disahkan Kementerian Keamanan Publik China menjadi sandarannya, disinkronkan langsung dengan lampu lalu lintas supaya instruksi ke pengemudi tetap konsisten.
Di kawasan wisata West Lake, fungsinya lebih luas. Wisatawan bisa menekan tombol "speak" pada layar untuk bertanya soal arah atau rute, yang dijawab secara real-time berdasarkan kondisi lalu lintas terkini berkat model bahasa AI terintegrasi. Satu kali pengisian daya cukup untuk 8 hingga 9 jam operasi.
Otoritas Hangzhou berulang kali menegaskan bahwa tujuannya bukan menggusur polisi manusia. Robot ditugaskan menangani pekerjaan repetitif dan melelahkan seperti meniup peluit berjam-jam atau mengarahkan kendaraan di persimpangan. Polisi manusia, sebaliknya, dialihkan ke tugas yang butuh penilaian kompleks: menangani kecelakaan, pelanggaran berat, situasi darurat yang tidak bisa diselesaikan dengan algoritma.
Nama di balik Hangjing Zhixing cukup mengejutkan: Chery Group, perusahaan yang selama ini dikenal sebagai produsen otomotif. Melalui anak usahanya AiMOGA Robotics, Chery mengumumkan kesepakatan pengadaan 1.000 unit Intelligent Police Robot dalam ajang 2026 AiMOGA Global Release Conference di Wuhu, Anhui, dengan distribusi perdana 110 unit. Chairman Chery, Yin Tongyue, menjelaskan bahwa kendaraan pintar dan robot pada dasarnya berbagi fondasi teknologi yang sama: persepsi lingkungan, pengambilan keputusan, perencanaan gerakan, dan kontrol otomatis berbasis AI.
Komersialisasi ini menandai babak baru. Bertahun-tahun menanamkan AI ke intelligent cockpit, sistem ADAS, autonomous parking, hingga Large Language Model untuk interaksi manusia-kendaraan, semuanya kini bermuara ke robotika. Satu garis lurus dari mobil pintar ke robot polantas, kalau data ini bisa dipercaya.
Reaksi warganet China terbelah dua. Sebagian terpesona, menyebut pemandangan ini sebagai "cyberpunk yang menjadi kenyataan". Sebagian lagi berharap teknologi serupa segera menyebar ke lebih banyak kota. Warga yang berpapasan dengan Hangjing Zhixing di jalan langsung mengerubungi, memotret, merekam, dengan ekspresi yang susah disembunyikan.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah robot polisi akan jadi kenyataan. Sudah jadi. Pertanyaannya: seberapa cepat 1.000 unit berikutnya tersebar, dan kota mana yang antri lebih dulu.