RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Rudal dan Meja Runding: Kalkulasi Teheran di Balik...

Internasional

Rudal dan Meja Runding: Kalkulasi Teheran di Balik Serangan ke Israel

Serangan balasan Iran ke Israel pada 8 Juni bukan sekadar reaksi militer. Di baliknya ada kalkulasi geopolitik yang rumit, negosiasi nuklir yang diklaim hampir final, dan retakan nyata antara Trump dengan Netanyahu.

Mengapa Iran Balas Serangan Israel terhadap Lebanon?

Serangan rudal Iran ke wilayah Israel pada Minggu malam hingga Senin, 8-9 Juni 2026, datang di saat yang agaknya dipilih dengan sengaja. Tepat ketika Washington mengklaim negosiasi damai AS-Iran sudah berada di "tahap akhir yang sangat menentukan", kata Trump sendiri: "final throes."

Satu hari sebelum rudal-rudal itu meluncur, Israel membombardir sebuah bangunan di Beirut Selatan yang disinyalir terkait jaringan Hizbullah. Israel menyebut itu pembalasan atas tembakan roket Hizbullah ke Israel utara, sekaligus respons atas pelanggaran gencatan senjata yang baru saja diperbarui. Iran tidak menunggu lama.

Itulah yang membuat banyak analis mengernyitkan dahi.

Bukan karena skala serangannya. Secara militer, dampaknya terukur, bahkan bisa diredam. Yang mengganjal adalah waktunya: kalau Iran benar-benar mengincar kesepakatan damai dengan AS, kenapa justru menembakkan rudal ketika pembicaraan hampir menyentuh garis finish?

Jawabannya tidak sesederhana yang terlihat di permukaan.

Para pemimpin Teheran agaknya membaca situasi dengan cara yang berbeda dari analis Barat. Republik Islam ini keluar dari berbulan-bulan tekanan militer dan sanksi ekonomi dalam kondisi melemah secara material, tapi juga dengan keyakinan diri yang justru menguat. Pemerintah masih berkuasa. Aparat keamanan utuh. Pemberontakan massal yang sering diramalkan musuh-musuhnya? Tidak terjadi. Pengalaman itu membentuk kalkulasi baru: Iran bukan lagi aktor yang harus menghindar dari konfrontasi dengan segala cara, melainkan kekuatan yang merasa telah melewati masa terburuknya dan kini mampu menegakkan batas dengan lebih tegas.

Serangan ke Israel kali ini, kalau dibaca konteksnya, besar kemungkinan bukan sekadar balas dendam atas Beirut. Ini pesan kepada seluruh jaringan "Poros Perlawanan", dari Hizbullah, milisi Irak, hingga kelompok-kelompok regional lainnya, bahwa serangan terhadap sekutu Iran tidak akan lagi diperlakukan terpisah dari serangan terhadap Iran sendiri. Kredibilitas Teheran di jaringan itu bertumpu pada satu hal: keyakinan bahwa Iran akan berdiri di belakang mitranya. Ketika Iran diam saja melihat sekutunya dihajar, harga politiknya di dalam jaringan itu bisa sangat mahal.

Ada sisi lain yang tak bisa diabaikan. Kemungkinan besar Iran sengaja mengerahkan kekuatan militer yang terukur justru untuk memperkuat posisinya di meja perundingan. Bukan untuk meledakkan diplomasi. Tembakan rudal sambil tetap duduk di kursi negosiasi adalah cara Iran bilang: "Kami bisa ngomong, tapi kami juga bisa berbuat." Kalau Iran yakin diminta membuat konsesi tanpa menerima manfaat yang berarti sebagai imbalannya, tindakan ini mungkin cara untuk menaikkan taruhan sebelum babak negosiasi berikutnya dimulai.

Di Washington, kalkulasi yang berbeda sedang berjalan.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump disebut semakin frustrasi terhadap Netanyahu. Ia memperingatkan pemimpin Israel itu dengan bahasa yang jarang terdengar dari seorang presiden AS kepada sekutu sedekatnya. "Bibi, hati-hati, atau Anda akan sendirian," ujar Trump, sebagaimana dilaporkan. Bukan basa-basi diplomatik. Dalam sejarah hubungan AS-Israel, bahasa sepedas itu tergolong sangat tidak lazim.

Ketegangan antara keduanya sudah terbangun sejak awal 2026. Washington kini lebih fokus mengakhiri konflik, membuka kembali Selat Hormuz, dan menstabilkan pasokan energi global yang terganggu. Netanyahu, sebaliknya, masih memandang tekanan militer sebagai instrumen yang tidak bisa dihapus dari strategi menghadapi Iran. Ia menegaskan secara publik bahwa Israel tetap memiliki hak membela diri dan sudah menyampaikan hal itu langsung kepada Trump.

Menurut Kolonel Purnawirawan Lawrence Wilkerson, mantan Kepala Staf Menteri Luar Negeri AS, kondisi Netanyahu jauh lebih terjepit dari yang terlihat. "Netanyahu benar-benar di antara dua tekanan besar," kata Wilkerson dalam sebuah wawancara yang beredar luas. Ia bahkan menyebut Trump gagal menjaga keamanan Israel. Situasi politik internal Tel Aviv pun tidak lebih baik: Netanyahu diterpa berbagai isu dalam negeri sambil menghadapi tekanan internasional yang terus mengalir atas kebijakan Israel di Palestina dan Lebanon.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian memastikan Teheran masih duduk di meja perundingan. Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menyebut kedua pihak tengah bertukar pandangan dengan Pakistan sebagai perantara. PM Pakistan Shehbaz Sharif ikut menyerukan penghentian serangan, mengingat kesepakatan final disebut sudah sangat dekat.

Taruhannya tidak kecil. Selat Hormuz, pasokan energi global, masa depan program nuklir Iran, dan arsitektur keamanan Timur Tengah untuk satu dekade ke depan, semua tergantung dari apakah negosiasi ini berhasil atau tidak. Trump mengindikasikan Selat Hormuz bisa kembali normal dalam hitungan hari jika kesepakatan ditandatangani. Angka itu sudah cukup untuk membuat pasar energi dunia memasang telinga.

Pertanyaan yang menggantung sekarang bukan apakah Iran siap menghadapi serangan Israel berikutnya. Pertanyaan yang lebih relevan: apakah Iran percaya diri bisa menembakkan rudal sambil tetap bernegosiasi? Entah kebetulan atau tidak, jawaban atas pertanyaan itu agaknya sudah diberikan. Konsekuensinya, bagi kawasan yang sudah terlalu lama lelah berperang, adalah soal lain.