RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Rumah Sakit Ghandour Rata dengan Tanah, Lebanon Te...

Internasional

Rumah Sakit Ghandour Rata dengan Tanah, Lebanon Terus Menghitung Korban

Serangan udara Israel menghancurkan total Rumah Sakit Ghandour di Nabatieh, Lebanon selatan, sementara analis memperingatkan setiap eskalasi militer Israel akan menghadapi perlawanan yang berdarah dan mahal.

Serangan Israel Hancurkan Rumah Sakit Ghandour di Lebanon, 17 RS Lain Rusak

Rumah Sakit Ghandour di Nabatieh al-Fawqa kini tinggal puing. Serangan udara Israel pada Minggu, 6 September 2026, meratakan fasilitas kesehatan itu sepenuhnya, berdasarkan konfirmasi Kementerian Kesehatan Lebanon.

Bukan cuma Ghandour. Sejak 2 Maret, otoritas Lebanon mencatat 17 rumah sakit di seluruh negeri telah rusak akibat gempuran Israel, dengan tiga fasilitas di Lebanon selatan sudah berhenti beroperasi sebelum insiden ini. Angka besar, dan terus bertambah.

Kemenkes Lebanon menyebut penghancuran itu sebagai "pelanggaran lain terhadap perlindungan yang diberikan kepada fasilitas medis berdasarkan hukum humaniter internasional", sebuah tuduhan serius yang, kalau data ini bisa dipercaya, reaksi komunitas internasional sejauh ini agaknya masih sebatas pernyataan.

Ada ironi yang sulit diabaikan: Rumah Sakit Ghandour sejatinya sudah berhenti beroperasi sekitar dua bulan lalu akibat meningkatnya serangan Israel di Nabatieh dan sekitarnya. Fasilitas itu pernah memainkan peran ganda, memberikan layanan medis sekaligus menjadi tempat pengungsian bagi warga yang terlantar. Kini bahkan bangunannya pun sudah tidak ada.

Serangan terhadap Ghandour berlangsung beberapa jam setelah rentetan gempuran udara Israel di Distrik Nabatieh menewaskan empat orang dan melukai 20 lainnya. Wilayah yang dihajar mencakup kawasan Al-Rahibat di Kota Nabatieh, Arab Salim, hingga Kfar Remman. Bagi warga sipil di sana, ini bukan eskalasi. Ini rutinitas.

Semua ini terjadi di atas kerangka kesepakatan gencatan senjata yang disponsori Amerika Serikat, ditandatangani 26 Juni lalu, yang mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dengan imbalan pengerahan Angkatan Darat Lebanon. Penyulut terbarunya: klaim militer Israel bahwa mereka berhasil mencegat drone yang disebut diluncurkan Hezbollah ke arah pasukan Israel di wilayah yang Tel Aviv sebut "zona keamanan" di Lebanon selatan. Narasi yang familiar. Kesepakatan itu, entah kebetulan atau tidak, tampak hanya berlaku di atas kertas.

Analis Lebanon menilai kondisi lapangan jauh lebih kompleks dari sekadar aksi-reaksi militer. Hezbollah, menurut kalangan pengamat ini, memosisikan wilayah Ali al-Taher sebagai benteng yang tidak mudah ditembus, dan setiap manuver Israel di sana bisa berubah menjadi pertempuran panjang yang menguras sumber daya. Berdarah dan mahal, begitu kira-kira framing yang beredar.

Angka korban kumulatif terus menumpuk. 4.358 jiwa. Sejak 2 Maret, serangan Israel juga melukai 12.359 orang, sementara lebih dari satu juta warga Lebanon kini mengungsi. Israel masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan, termasuk kantong-kantong yang telah dikuasainya selama beberapa dekade.

Pertanyaannya bukan lagi soal apakah konflik ini akan meluas. Seberapa jauh dunia internasional masih bersedia menyebutnya "eskalasi terbatas"?