Rupiah tampil sebagai mata uang paling perkasa di Asia pada pembukaan Rabu (10/6/2026), menguat tajam sementara won, ringgit, hingga baht justru kembali terkapar. Bukan kebetulan, dua katalis domestik bekerja bersamaan pagi ini.
Data Refinitiv pukul 09.30 WIB mencatat rupiah terapresiasi 0,61% ke Rp17.940 per dolar AS, kembali ke bawah level psikologis Rp18.000. Penguatan ini melanjutkan momentum sehari sebelumnya: rupiah ditutup menguat 170 poin atau 0,94% ke Rp18.000 pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Angka yang tidak main-main.
Dua sentimen domestik jadi bahan bakar utama. Pertama, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate 25 basis poin menjadi 5,50% sebagai langkah pre-emptive menjaga stabilitas nilai tukar dan menahan inflasi di kisaran 2,5% plus minus 1%. Dampaknya? Indeks saham menguat, minat investor asing di lelang obligasi tetap terjaga. Kedua, Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter, berlaku mulai hari ini.
Sinyal kenaikan BBM non-subsidi, agaknya, dibaca pasar bukan sebagai beban, melainkan tanda konsolidasi fiskal. "Transmisi kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi dinilai baik (oleh pelaku pasar) terhadap fiskal pemerintah dan risiko sosial politik yang masih terkendali," ujar Analis Bank Woori Saudara Rully Nova kepada Antara. Logikanya sederhana: subsidi yang lebih ramping berarti ruang fiskal lebih lega, dan pasar menyukainya.
Mata uang tetangga tidak seberuntung itu. Won Korea Selatan melemah 0,12% ke KRW1.524,8 per dolar AS, ringgit Malaysia terkoreksi 0,15% ke MYR4,064, sementara dong Vietnam bersama baht Thailand masing-masing amblas 0,21%. DXY terpantau menguat tipis 0,07% ke posisi 99,987, bertahan di sekitar level 100 yang belakangan ini jadi medan tarik-menarik.
Ketegangan Iran-Amerika Serikat kembali menyengat setelah serangan yang disebut Washington sebagai aksi pertahanan diri, menyusul jatuhnya helikopter AS. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan angkatan bersenjatanya tidak akan tinggal diam. Gencatan senjata yang sudah rapuh makin dipertanyakan. Harga energi ikut merangkak, memperkeruh kalkulasi inflasi global, bak gayung bersambut bagi para hawkish di The Fed.
Pertanyaannya, berapa lama rupiah bisa mempertahankan statusnya sebagai bintang pagi ini? Rully mengingatkan bahwa faktor global akan "memperberat langkah rupiah untuk penguatan lebih jauh," dengan pelaku pasar masih menunggu rilis data inflasi AS malam ini yang diperkirakan masih dalam tren kenaikan. Berdasarkan skenario itu, rupiah diprediksi berbalik dan bergerak di kisaran Rp18.030 hingga Rp18.080 per dolar AS sepanjang hari, sementara proyeksi lain menyebut rentang Rp18.050 hingga Rp18.100.
Perkasa di pagi hari, tapi sore bisa lain cerita. Itulah rupiah hari ini.