RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rupiah Kembali ke Rp 17.860, Tiga Pilar Stabilisas...

Bisnis

Rupiah Kembali ke Rp 17.860, Tiga Pilar Stabilisasi BI Mulai Buktikan Diri

Rupiah menguat tajam ke Rp 17.860 per dolar AS pada Jumat, didorong kombinasi kenaikan BI Rate, derasnya aliran modal asing senilai Rp 45,92 triliun, dan revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia.

Rupiah Bisa Menguat Drastis Pekan Depan, Ada Pendorong Kuat - Halaman all

Rupiah akhirnya keluar dari zona Rp 18.000-an. Penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026) membawa mata uang Garuda ke level Rp 17.860 per dolar AS, menguat 129 poin dari posisi sebelumnya di Rp 17.989. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia ikut naik ke Rp 17.921 dari Rp 17.981.

Penguatan ini bukan kebetulan. Dalam hitungan sepekan, tiga kebijakan berjalan bersamaan dan pasar merespons dengan cara yang jarang terlihat belakangan ini: modal asing masuk deras.

Katalis utamanya jelas: kenaikan BI Rate 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan langkah itu ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah lantaran ketidakpastian global masih menghantui, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Secara kumulatif, BI sudah menaikkan suku bunga 75 basis poin dalam beberapa bulan terakhir. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai kombinasi kebijakan moneter dan fiskal saat ini jauh lebih solid dibandingkan beberapa bulan lalu.

Dampaknya langsung terasa di arus modal. Pada 10 Juni, dana asing yang masuk ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) nonresiden mencapai Rp 15,11 triliun. Sehari kemudian, aliran ke Surat Berharga Negara (SBN) tercatat Rp 3,91 triliun. Ditambah penerbitan perdana obligasi internasional Danantara yang berhasil menghimpun Rp 26,9 triliun, total modal asing yang masuk lewat ketiga instrumen itu mencapai sekitar Rp 45,92 triliun. "Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti.

Masif. Di hari yang sama, investor asing juga membukukan net buy Rp 287 miliar di pasar saham. Bukan angka raksasa, tapi cukup sebagai sinyal arah.

Revisi proyeksi Bank Dunia turut memberi amunisi. Lembaga itu menaikkan estimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen untuk 2026, naik dari proyeksi sebelumnya 4,7 persen. Angka kuartal I-2026 pun sudah bicara sendiri: pertumbuhan 5,6 persen secara tahunan, tertinggi sejak kuartal II-2021. Lonjakan konsumsi selama Ramadhan dan Lebaran, percepatan pencairan THR ASN, serta akselerasi program Makan Bergizi Gratis menjadi penopangnya.

Fakhrul memetakan apa yang disebutnya tiga pilar stabilisasi yang kini bekerja serentak: kenaikan suku bunga di sisi moneter, penyesuaian harga Pertamax sebagai sinyal kesehatan fiskal, dan efisiensi belanja negara yang memperkuat keyakinan investor soal disiplin anggaran. "Dengan dukungan berbagai sentimen tersebut, rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 17.450-17.650 per dolar AS pada pekan depan dengan kecenderungan menguat," jelasnya.

Agak lebih konservatif, Investment Specialist Korea Investment and Sekuritas Indonesia Azharys Hardian memproyeksikan rupiah menuju Rp 17.700 pada pekan depan, sejalan dengan kembalinya arus dana asing ke pasar keuangan domestik.

Tapi ada sisi lain yang tidak bisa diabaikan. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengingatkan penguatan rupiah masih dibatasi oleh kombinasi penguatan dolar AS, kehati-hatian pelaku pasar menjelang akhir pekan, dan ketidakpastian global yang belum mereda. Data Producer Price Index AS pada Mei 2026 yang naik lebih tinggi dari perkiraan memunculkan ekspektasi bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada Desember 2026. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan itu sekitar 60 persen. Belum lagi risiko penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran yang bisa menjaga harga minyak tetap membara.

Pertanyaannya, berapa lama tren penguatan ini bertahan?

Di sisi domestik, pasar agaknya juga menunggu pembuktian. Belanja pemerintah biasanya melonjak di semester II, dan risiko subsidi energi masih cukup besar. Disiplin fiskal yang diklaim hari ini perlu dipertahankan hingga akhir tahun, dan itu bukan pekerjaan mudah.

Untuk jangka lebih panjang, BI menyiapkan lapisan tambahan: intervensi via Non Deliverable Forward di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta penguatan kerja sama bilateral currency swap dengan People's Bank of China dan Hong Kong Monetary Authority. Semua diarahkan untuk mengikis ketergantungan struktural terhadap dolar AS. Kalau konsisten, bisa jadi ini bukan sekadar penguatan sesaat.