Tiga hari berturut-turut rupiah tidak bisa bangkit. Jumat (24/7), kurs spot ditutup di Rp17.963 per dolar AS, tergerus 0,15% dari penutupan sebelumnya di Rp17.936. Pagi harinya sempat menyentuh Rp17.979 sebelum sedikit membaik di sesi berikutnya. Dalam sepekan, rupiah sudah amblas 0,23% dari level Rp17.921 yang dicatat Jumat pekan lalu.
Biang keroknya cukup jelas: minyak. Harga minyak mentah Brent sempat menembus 95 dolar AS per barel, terdorong serangkaian insiden di dua titik paling kritis dalam peta energi global. Di Selat Bab el-Mandeb, kelompok Houthi Yaman mengklaim melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker minyak Saudi menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Di Selat Hormuz, sebuah kapal tanker terkena ledakan ranjau hingga memaksa dua kapal lain meninggalkan jalur pelayaran. Hormuz bukan jalur sembarangan. Sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati sana.
Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menilai tekanan ini bukan sekadar soal harga energi. "Harga minyak mentah Brent juga sempat menembus 95 dolar AS per barel, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah," katanya kepada ANTARA. Lonjakan itu, menurut Josua, kembali menghidupkan hantu twin deficit, skenario di mana defisit fiskal dan defisit neraca transaksi berjalan terjadi bersamaan. Buat Indonesia sebagai net importer minyak, harga energi yang membubung berarti tagihan impor yang membengkak dan potensi tambahan beban subsidi energi domestik. Kombinasi itu cukup untuk membuat investor menghindar dari aset rupiah.
Eskalasi geopolitik juga menyeret spekulasi soal kebijakan moneter AS. Ketegangan di Timur Tengah memicu ekspektasi bahwa Federal Reserve punya alasan tambahan untuk mempertahankan sikap hawkish-nya, atau bahkan menaikkan suku bunga dalam pertemuan pekan depan. Sentimen risk-off yang menyebar ke seluruh pasar keuangan global mendorong pelarian ke dolar AS sebagai safe haven. Sepanjang sepekan, indeks dolar mengakumulasi kenaikan 0,58%, meski di sesi Jumat sempat melemah 0,09% ke level 101,35.
Rupiah tidak sendirian dalam tekanan ini, agaknya termasuk yang paling berat menanggungnya di kawasan. Dolar Taiwan mencetak kinerja terburuk di Asia dengan pelemahan 0,30%, diikuti peso Filipina yang terkoreksi 0,14% dan ringgit Malaysia 0,08%. Won Korea justru melesat 0,88% dan baht Thailand naik 0,38%. Arah pergerakan mata uang Asia hari ini tidak seragam, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya.
Dari Washington, Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa AS akan meminta pertanggungjawaban Teheran apabila Houthi terus menyerang kapal komersial. Menteri Luar Negeri Rubio menambahkan bahwa Houthi harus "menjauh" dari konflik Iran, setidaknya itu klaim manajemen Washington. Teheran tidak tinggal diam: militer Iran memperingatkan kemungkinan penyerangan terhadap fasilitas energi di kawasan jika serangan AS terhadap infrastruktur Iran berlanjut. Lingkaran ancaman saling balas ini, entah kebetulan atau tidak, terjadi persis ketika pasar sudah dalam kondisi rapuh.
Josua memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp17.900 hingga Rp18.025 hari ini. Selama minyak belum meredakan kenaikannya dan ketegangan di Selat Hormuz belum mereda, rupiah tampaknya harus puas bergelut di zona yang tidak nyaman ini. Bukan posisi yang mudah.