Rupiah dibuka di zona merah Jumat (24/7/2026), melemah 43 poin ke Rp17.979 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.936. IHSG pun tak luput, tergerus 1,49 persen ke 6.221,39 pada pukul 09.55 WIB.
Pemicunya bukan satu hal. Harga minyak mentah Brent sempat menembus 95 dolar AS per barel, level yang cukup untuk membuat kalangan importir energi seperti Indonesia mulai berkeringat dingin. Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menyebut lonjakan ini kembali memunculkan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit, eh, maksudnya, kombinasi defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan yang berpotensi menggerus sentimen investor terhadap aset domestik. Kalau data ini bisa dipercaya, tekanan pada rupiah masih jauh dari selesai.
Akar masalahnya ada di dua titik sekaligus: Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Militer AS dilaporkan telah menyerang target Iran selama 11 malam berturut-turut. Kelompok Houthi Yaman, di sisi lain, mengklaim telah menghantam dua kapal tanker minyak Saudi menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone pada Kamis (23/7). Satu kapal tanker terkena ledakan ranjau di Selat Hormuz, memaksa dua kapal lain meninggalkan jalur pelayaran selatan. Selat ini bukan jalur sembarangan, sekitar seperlima konsumsi minyak global melewatinya setiap hari.
Gangguan di Bab el-Mandeb menambah tekanan. Kapal-kapal tanker terpaksa mempertimbangkan rute alternatif memutar selatan Afrika, yang berarti waktu lebih lama dan ongkos lebih tinggi. Bagi pasar, ini bukan sekadar drama geopolitik. Ancaman nyata terhadap rantai pasok energi global.
Di sisi kebijakan domestik, Bank Indonesia memilih menahan BI-Rate di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur Juli 2026. Deposit Facility dipatok 4,75%, Lending Facility di 6,50%. Keputusan ini agaknya mengecewakan sebagian pelaku pasar yang sudah memasang ekspektasi kenaikan. BI menyertakan paket insentif untuk menarik aliran portofolio asing, termasuk pendalaman pasar uang dan pasar valas. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kebijakan ini ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan mempercepat pendalaman pasar keuangan domestik. "BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas," kata Ibrahim.
Mata semua orang kini tertuju ke The Fed. Pertanyaannya, berapa lama sinyal hawkish ini bertahan? Data probabilitas pasar menunjukkan 78 persen kemungkinan bank sentral AS akan menahan suku bunga pada pertemuan minggu depan, tapi peluang kenaikan di September sudah merayap ke sekitar 68 persen, didorong inflasi energi yang kembali menguat. "Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada 2026 meningkat tajam seiring harga minyak yang tinggi," kata Ibrahim.
Josua memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.025 sepanjang hari ini, seiring sentimen risk-off global yang mendorong pelaku pasar berbondong-bondong ke dolar sebagai aset aman. Selama dua selat itu belum tenang, tekanan pada rupiah bisa jadi belum usai.