Kalau ada yang masih meragukan ketangguhan Samsung di pasar massal, data Counterpoint Research untuk Q1 2026 seharusnya cukup untuk menutup perdebatan itu. Lima model Galaxy A-series berhasil masuk daftar 10 smartphone terlaris dunia periode tersebut, pencapaian yang melampaui ekspektasi sebagian analis.
Yang paling mengejutkan bukan Galaxy S26 Ultra yang harganya selangit. Samsung Galaxy A07 4G, perangkat entry-level yang nyaris tidak glamor, tercatat sebagai HP Android paling laris di dunia sepanjang Q1 2026. Kencangnya kampanye 5G dari berbagai merek rupanya tidak menggerus permintaan terhadap perangkat 4G yang stabil dan terjangkau, terutama dari pasar berkembang di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin.
Bukan kebetulan. Strategi Samsung memisahkan pasar volume lewat seri A dan pasar profit lewat seri S sudah berjalan sistematis. Galaxy A56 memimpin segmen mid-range dengan layar AMOLED dan kamera yang mendekati kelas flagship. Galaxy A36 dan A17 5G mengisi celah di bawahnya. Galaxy A07 4G dan A17 4G berfungsi sebagai penjaga gawang di segmen paling bawah. Lima model, satu strategi, hasilnya terbukti.
Galaxy S26 Ultra sendiri dilaporkan membukukan angka penjualan awal lebih tinggi ketimbang pendahulunya, Galaxy S25 Ultra. Tapi harga jual rata-rata yang tinggi membuat model ini belum mampu menembus Top 10 global secara volume. Artinya Samsung tidak perlu memilih antara volume dan margin, keduanya berjalan paralel.
Apple menutup 2025 dengan pangsa pasar sekitar 20%, unggul tipis atas Samsung yang mengantongi 19%, kalau data ini bisa dipercaya sebagai patokan arah 2026. iPhone 17 menempati posisi teratas di segmennya berkat lompatan performa chipset A-series terbaru dan efisiensi daya yang lebih baik. iPhone 17 Pro Max, dengan material titanium, layar terbesar, dan integrasi AI generatif di iOS, tetap menjadi raja di segmen ultra-premium. iPhone 16, yang kini lebih terjangkau setelah generasi baru meluncur, masih mengantongi penjualan solid.
Satu nama yang layak dicermati: Xiaomi. Redmi A5 menyusup ke daftar terlaris global awal 2026, membuktikan bahwa Xiaomi bukan sekadar pemain regional. Pertanyaannya, berapa lama Samsung masih bisa menahan laju ini? Di segmen paling bawah, pertempuran kini bukan lagi antara Samsung dan no-name brand, melainkan Samsung melawan Xiaomi. Itu jauh lebih serius.
Pasar smartphone global 2026 bukan soal siapa paling canggih. Ini soal siapa paling fasih membaca bahwa mayoritas konsumen dunia masih beli HP dengan satu logika sederhana: cukup untuk kebutuhan, harga masuk akal. Samsung, sampai hari ini, paling lancar bicara dalam bahasa itu.