Sepanjang dua tahun terakhir, perang spesifikasi di segmen mid-range makin sengit. Samsung tahu itu, dan Galaxy A26 5G agaknya disiapkan sebagai jawaban atas tekanan dari merek-merek Cina yang terus menggerus pasar kelas menengah dengan spesifikasi di atas harga.
Peningkatan paling terasa ada di sektor kamera. Kamera utama 50 MP kini dilengkapi Optical Image Stabilization (OIS), fitur yang sebelumnya hampir mustahil ditemukan di harga segini. Kombinasi sensor beresolusi tinggi dan stabilisasi optik ini langsung menempatkan A26 5G sebagai kandidat serius bagi pengguna yang rutin bikin konten harian, entah itu vlog perjalanan, dokumentasi event, atau sekadar konten media sosial yang butuh tampilan lebih sinematik.
Soal video, perangkat ini sudah mampu merekam di resolusi 4K UHD (3840 x 2160 piksel) pada 30 fps. Bukan angka kecil untuk kelas harganya. Resolusi setinggi ini memberi ruang lebih saat proses cropping atau reframing di editing, dan detailnya jelas selevel di atas Full HD yang selama ini jadi standar segmen menengah.
Tapi jangan keburu impressed. Pengujian independen dari Tech Advisor menunjukkan stabilisasi bawaan masih punya batas: saat merekam sambil berjalan cepat atau dalam kondisi dinamis, guncangan masih cukup terasa di footage. Gimbal eksternal tetap relevan, kalau data ini bisa dipercaya, mengingat tidak semua pengguna mau repot bawa aksesori tambahan. Belum lagi, A26 5G tidak mendukung 4K 60fps, jadi untuk konten olahraga atau keperluan slow-motion, masih ada lubang yang belum ditambal.
Konfigurasi lengkapnya: tiga kamera belakang ditambah satu kamera depan 13 MP. Lensa ultrawide 8 MP hadir untuk tangkapan sudut lebar, berguna saat foto grup atau lanskap sempit. Lensa makro 2 MP, jujur saja, lebih terasa sebagai pengganjal spesifikasi ketimbang alat yang benar-benar akan dipakai. Resolusinya terlalu terbatas untuk ekspektasi apapun yang serius.
Soal penyimpanan video 4K yang rakus kapasitas, Samsung memberi jalan keluar lewat slot microSD yang bisa ekspansi hingga 2 TB. Slotnya hibrida, artinya pengguna harus pilih: kartu memori atau SIM kedua. Bagi pengguna dual SIM yang aktif, ini kompromi yang tidak nyaman.
Di siang hari dengan cahaya berlimpah, kamera utamanya tampil solid. Reproduksi warna akurat, dynamic range cukup luas, autofocus responsif menangkap momen cepat. Malam hari lain cerita. Noise mulai muncul, detail cenderung soft, dan meski ada peningkatan dibanding generasi sebelumnya, hasilnya belum ke level yang bisa disebut unggul. Untuk kondisi minim cahaya, tetap andalkan kamera utama, jangan ultrawide.
Samsung juga menyematkan fitur AI editing yang mereka sebut "Awesome Intelligence", mencakup sejumlah fungsi penyuntingan langsung dari galeri tanpa perlu aplikasi pihak ketiga. Menyasar kreator konten pemula yang ingin hasil cepat tanpa kurva belajar panjang. Setidaknya itu klaim manajemen.
OIS dan 4K jadi kartu truf yang tidak semua rival bisa tandingi di harga yang sama. Pertanyaannya, berapa lama keunggulan ini cukup untuk menutup kompromi di stabilisasi video dan performa malam hari? Jawaban itu tergantung seberapa sering pengguna benar-benar merekam di kondisi yang berpihak.