Tujuh tahun sejak Samsung merintis segmen foldable pada 2019, nama "Ultra" akhirnya mampir ke lini Galaxy Z Fold. Bukan sekadar penambahan kata, peluncuran Galaxy Z Fold 8 Ultra pekan ini menandai pergeseran posisi: HP lipat Samsung tak lagi berdiri di bayangan Galaxy S Ultra.
Samsung Electronics Indonesia secara resmi memperkenalkan Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Z Fold 8 Ultra di Jakarta. Yang langsung menarik perhatian adalah klaimnya soal ketipisan: 4,1 mm saat layar dibuka. Untuk konteks, itu lebih tipis dari pensil standar. Samsung menyebutnya sebagai fold tertipis yang pernah mereka buat, dan angka itu agaknya jadi kebanggaan tersendiri, generasi-generasi sebelumnya kerap dihajar kritik soal bobot yang tidak ramah di saku.
Ilham Indrawan, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, menegaskan bahwa label Ultra bukan sekadar strategi penamaan. "Untuk pertama kalinya kami meluncurkan Ultra Series pada Z Fold. Experience Ultra itu benar-benar kami bawa ke Z Series tahun ini. Bukan hanya dari satu aspek, melainkan pengalaman tertinggi yang kami berikan secara menyeluruh," kata Ilham.
Tiga pilar. Itu yang diandalkan Samsung untuk membenarkan klaim tersebut.
Pertama: kamera. Z Fold 8 Ultra mengusung konfigurasi tiga lensa belakang yang diklaim setara Galaxy S26 Ultra, kamera utama 200MP, telefoto 10MP, ultra-wide 50MP. Peningkatan pada kamera ultra-wide diklaim menghasilkan detail hingga empat kali lebih tajam dibanding generasi sebelumnya. Ini menjawab keluhan lama bahwa HP lipat Samsung selalu tertinggal di sektor kamera dibanding saudara kandungnya dari lini S. Setidaknya itu klaim manajemen.
Kedua: performa. Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy menjadi dapur pacu perangkat ini, dengan klaim peningkatan kecepatan 21% dibanding generasi sebelumnya. One UI 9 berjalan di atasnya, lengkap dengan integrasi Galaxy AI dan NotebookLM, pengguna bisa merangkum dokumen hingga brainstorming dari aneka format file langsung di perangkat. Ada pula fitur My Fan Cam berbasis AI: rekam seluruh panggung konser atau pertandingan, pilih subjek, dan Galaxy AI akan mendeteksi serta mengikuti pergerakannya saat pengeditan. Cukup untuk bikin konten kreator penasaran.
Ketiga: baterai. Di sinilah Samsung membuktikan bahwa desain tipis tak harus berkorban. Kapasitas justru naik ke 5.000mAh berkat teknologi silicon-carbon, sementara kecepatan pengisian melonjak dari 25W ke 45W via Super Fast Charging 2.0. Klaim Samsung: nol ke 80 persen dalam 35 menit.
Ketipisan 4,1 mm itu pun tidak dicapai dengan mengorbankan daya tahan. Teknologi Flex Titanium Display dan Flex Titanium Flow pada lapisan layar diklaim membuat mekanisme buka-tutup terasa lebih kokoh sekaligus nyaman, meski klaim semacam ini tentu perlu dibuktikan lewat pemakaian jangka panjang.
Pertanyaannya, apakah varian reguler masih relevan di tengah tawaran Ultra yang begitu agresif?
Galaxy Z Fold 8 hadir lebih terjangkau dengan bobot 201 gram, kamera utama 50MP, ultra-wide 50MP, baterai 4.800mAh, dan chipset yang sama. Layar depan 15:10 membuatnya lebih nyaman untuk konsumsi konten dan media sosial tanpa perlu membuka layar utama. Dua produk, dua target: Z Fold 8 untuk pengguna yang menginginkan portabilitas, Z Fold 8 Ultra untuk power user yang butuh multitasking penuh dan performa puncak.
Soal harga, Galaxy Z Fold 8 dibanderol mulai Rp19.999.000. Galaxy Z Fold 8 Ultra mulai Rp32.499.000 hingga Rp44.499.999 untuk varian 16GB/1TB. Pre-order berlangsung hingga 13 Agustus 2026, dengan insentif berupa upgrade memori gratis dari 256GB ke 512GB, cashback, trade-in, perlindungan layar dua tahun, dan akses Google AI Pro gratis enam bulan.
Masuk akal Samsung perlu mendorong ekstra lewat promo pre-order. Di rentang Rp32 jutaan ke atas, pembeli sudah sangat selektif. Label "Ultra" saja tidak cukup. Yang akan menentukan adalah apakah pengalaman yang dijanjikan benar-benar terasa di tangan.