Sejak Jumat malam, desa Sarra di barat daya Nablus dihajar ratusan pemukim Israel yang datang bergelombang dari pos permukiman Havat Gilad. Mereka membakar rumah, melempar bom molotov, dan membuat puluhan keluarga Palestina terpaksa kabur di bawah kepulan asap. Setidaknya dua rumah ludes terbakar.
Mohammed Turabi, warga yang rumahnya jadi sasaran, tidak menyembunyikan kegeramannya. "Jumlah pemukim mencapai ratusan orang dan mereka menyerang rumah itu dengan brutal, menghujaninya dengan batu dan bom molotov. Halaman serta kendaraan pun terbakar," katanya. Turabi dan keluarganya lolos tanpa cedera, tapi halaman, kendaraan, dan lantai dasar rumah hangus habis. Menurut Turabi, tentara Israel berada di dekat lokasi dan hanya menonton tanpa intervensi, pola yang agaknya sudah tidak asing bagi komunitas di Tepi Barat.
Bukan serangan spontan, kata Ahmad Sarrawi, anggota pemerintah daerah Sarra. Para pemukim bahkan sudah membangun jalan tanah khusus untuk mempermudah akses ke permukiman warga Palestina. "Para pemukim datang dari pos permukiman Havat Gilad dan menyasar rumah-rumah di pinggiran desa, lalu membakar sejumlah rumah serta kendaraan dengan sangat cepat dan dalam jumlah banyak," jelas Sarrawi. Warga akhirnya turun tangan sendiri, menghadang para penyerang dan memaksa mereka mundur.
Umm Wahid, perempuan lanjut usia yang sudah terbiasa menggiring anak-anaknya tiap malam ke rumah putrinya demi menghindari serangan, malam itu menyaksikan lebih dari yang sanggup ia ceritakan dengan tenang. Buldoser Israel mencabut pohon-pohon zaitunnya. Lalu ratusan pemukim menyerbu dari lembah. Salah satu cucunya pingsan menghirup asap tebal. "Saat melihat mereka menyerang dalam jumlah begitu banyak, kami memutuskan untuk meninggalkan rumah demi melindungi anak-anak. Begitu kami pergi, mereka membakar rumah itu lalu mendatangi rumah-rumah lain di desa, memecahkan jendela dan merusak kendaraan," tuturnya.
Sarra bukan satu-satunya yang dihajar. Sehari sebelumnya, Jumat pagi 24 Juli 2026, Kota Tal di kawasan yang sama menjadi ajang konfrontasi lebih sengit. Sekelompok pemukim menyerang kawasan timur kota, sempat dipukul mundur warga, namun sekitar setengah jam kemudian kembali dengan dukungan kendaraan militer Israel dan menyerbu sisi barat yang berbatasan langsung dengan pos Havat Gilad.
Nama Farouq Adnan Ali Ramadan kemudian disebut-sebut para saksi. Pemuda Palestina tak bersenjata itu menerobos hujan peluru yang diarahkan ke kerumunan warga, lalu langsung berhadapan dengan petugas keamanan pemukim yang berjaga di pos permukiman. Banyak saksi menyebut tindakannya heroik, salah satu momen perlawanan rakyat paling menonjol di Tepi Barat dalam waktu belakangan ini. Dari satu keluarga saja, empat orang dilaporkan syahid dalam insiden di Tal.
Kekerasan beruntun ini berbarengan dengan kampanye hasutan kelompok pemukim ekstremis di media sosial, yang oleh organisasi hak asasi manusia diperingatkan sebagai pemantik kekerasan sistematis terhadap warga sipil. Kepresidenan Palestina dan Komisi Anti-Tembok dan Permukiman mengutuk keras serangkaian serangan ini, menyebutnya bagian dari kebijakan terencana untuk mengintimidasi warga dan mengusir mereka dari tanah sendiri. Seruan perlindungan internasional kembali bergema. Entah kapan benar-benar direspons.