RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Sayyari: Perang Iran Bukan Soal Senjata, Tapi Kehe...

Internasional

Sayyari: Perang Iran Bukan Soal Senjata, Tapi Kehendak yang Tidak Patah

Di tengah blokade Selat Hormuz dan tekanan militer AS, petinggi Angkatan Darat Iran justru tampil percaya diri: perang ini bukan soal siapa yang punya senjata lebih canggih.

Strait of Hormuz Maritime Blockade and Its Economic Impact

Retorika dari Teheran pekan ini tidak mereda. Laksamana Muda Habibollah Sayyari, Kepala Staf dan Wakil Koordinator Angkatan Darat Republik Islam Iran, turun langsung menemui para perekrut terbaik militer di Markas Angkatan Darat, menyampaikan pesan yang agaknya sengaja dirancang untuk dua audiens sekaligus: publik dan internal. Pesannya satu. Iran tidak sedang kalah, dan tidak merasa kalah.

"Perang hari ini adalah perang kehendak dan ketahanan dalam menghadapi kesulitan. Dalam bidang ini, kami telah bertindak dengan sangat berhasil," tegas Sayyari, seperti dilaporkan kantor berita Mehr, Minggu (6/9/2026). Konteksnya tidak main-main: AS masih mempertahankan blokade di kawasan, klaim Iran soal respons militer yang kian keras terus bergulir lewat kanal resmi, dan Selat Hormuz yang menanggung sekitar 20 persen perdagangan minyak global kini diklaim Teheran telah sepenuhnya tertutup.

Sayyari membungkus narasi perlawanan itu dengan sejarah. Ia mengingatkan perang delapan tahun Iran-Irak, ketika Baghdad sesumbar akan merebut Khorramshahr dalam satu hari dan mencapai Lapangan Azadi di Teheran dalam tujuh hari. Hasilnya? Pasukan Irak tertahan 34 hari di Khorramshahr saja. Bukan sekadar nostalgia bagi Sayyari, ini template. "Kami berhasil dalam perang-perang terakhir. Alasannya adalah ketidakmampuan musuh mencapai tujuan yang telah direncanakan," katanya.

Argumen itu menarik, tapi patut dilihat lebih dingin. Iran kini berhadapan dengan lawan yang berbeda skala dibanding Irak 1980-an: Amerika Serikat dengan akses penuh terhadap teknologi dan persenjataan mutakhir. Sayyari sendiri mengakui kesenjangan itu tanpa berkedip. "Kita harus memahami bahwa hari ini kita berhadapan dengan pihak yang memiliki seluruh peralatan dan teknologi dunia. Kita harus mengangkat kepala karena mampu berdiri menghadapi musuh seperti itu," ujarnya. Dalam logika Sayyari, justru di situlah kehendak dan ideologi menjadi pembeda.

Pertanyaannya, berapa lama logika itu bisa menggantikan logistik?

Fokus Sayyari pada sumber daya manusia juga bukan tanpa kalkulasi. Rekrutmen personel berkualitas ia sebut sebagai fondasi kekuatan tempur, lebih dari sekadar senjata. "Manusia yang bersih dan beriman dapat membawa kita menuju tujuan," katanya. Sanksi yang terus mencekik akses Iran terhadap teknologi militer dari luar membuat pilihan ini terasa lebih dari sekadar ideologi. Bisa jadi itu memang satu-satunya kartu yang masih bisa dimainkan.

Dari lini perbatasan, pejabat Penjaga Perbatasan Iran Javidan menegaskan pasukannya siap di garis terdepan dan tidak akan membiarkan infiltrasi musuh dalam bentuk apa pun. Pernyataan ini memperkuat kesan bahwa Teheran sedang membangun narasi yang kohesif, dari level strategis Angkatan Darat hingga satuan penjaga perbatasan: setiap jengkal wilayah akan dipertahankan.

Sementara itu di Washington, retakan kecil mulai terlihat. Trump sesumbar militer Iran sudah "hancur", tapi Menteri Pertahanan Hegseth rupanya tidak sependapat. Entah kebetulan atau tidak, celah itu agaknya sedang dicermati Teheran dengan saksama, bak gayung bersambut bagi narasi ketahanan yang terus mereka rawat.