Selama lebih dari tiga setengah bulan, ratusan kapal tanker minyak terjebak di perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia itu. Sejak 28 Februari 2026, Selat Hormuz praktis mati. Kini jalur itu bernapas lagi.
Trump mengumumkan Senin (15/6) bahwa kapal-kapal bisa melintasi Selat Hormuz tanpa membayar biaya apa pun, seiring dibukanya jalur strategis itu sebagai bagian dari nota kesepahaman damai AS-Iran yang ia tandatangani bersama Wakil Presiden JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Minggu lalu. Pembukaan penuh dijadwalkan Jumat pekan ini, saat AS dan Iran bersama Pakistan selaku mediator menandatangani kesepakatan secara fisik di Swiss.
Pasukan Angkatan Laut AS sudah bergerak lebih dulu. Kapal-kapal perang mulai mengawal konvoi tanker melewati selat pada malam hari, mengamankan transisi dari blokade ke operasi pelayaran normal. Media Iran melaporkan setidaknya tiga tanker minyak dan dua kapal kargo sudah berhasil melintas. "Kapal-kapal mulai bergerak, banyak yang bermuatan minyak, keluar dari Selat Hormuz. Saya pikir kita akan butuh banyak bantuan untuk menjaga jalur pelayaran tetap terbuka," kata Trump.
Ada satu catatan yang mengganjal. Tehran punya interpretasi berbeda soal "bebas biaya" versi Trump. Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan biaya layanan maritim tetap akan dibebankan pada kapal yang transit. Konflik kecil ini agaknya cermin retak dari sesuatu yang lebih besar: MoU setebal 1,5 halaman yang menjadi dasar kesepakatan masih sangat umum, dan teksnya belum dirilis ke publik saat berita ini ditulis.
300 miliar dolar AS. Angka itu disebut sebagai dana rekonstruksi Iran, tapi baru sebatas pembicaraan awal. Seorang pejabat AS menegaskan tidak ada satu dolar pun aset beku Iran yang dicairkan, dan pencairan dana ke depan akan "terkait dengan kinerja", begitu redaksi resminya. Trump secara eksplisit menyatakan Iran harus buktikan komitmen sebelum mendapat manfaat ekonomi apa pun. Vance menambahkan, garis besar kesepakatan dirancang untuk menyelesaikan soal paling pelik, termasuk program nuklir Iran. Periode 60 hari yang dimulai setelah penandatanganan Jumat masih meninggalkan banyak lubang terbuka.
Di Tehran, respons terbelah. Garda Revolusi Iran mengklaim ini kemenangan dan menyebut mereka berhasil mempermalukan AS dan Israel. Presiden Masoud Pezeshkian menyebutnya pencapaian besar. Tapi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memilih nada yang jauh lebih dingin. "Kita punya sejarah komitmen yang dilanggar. Kita memiliki sejarah perjanjian yang dibatalkan. Semua ini jadi pertimbangan," ujarnya. Keras, untuk ukuran seorang menlu yang berbicara soal kesepakatan yang baru saja diteken pemimpinnya sendiri.
Israel tidak senang. Netanyahu menegaskan pasukannya tetap bercokol di Lebanon, Suriah, dan Gaza "selama diperlukan", sementara tokoh-tokoh politik Israel dari lintas spektrum mengkritik kesepakatan ini. Di Lebanon, situasi belum benar-benar mereda: juru bicara PBB Stephane Dujarric mengutip laporan UNIFIL yang mencatat 133 lintasan proyektil dan dua serangan udara yang dikaitkan dengan IDF hanya dalam rentang tengah malam hingga pukul 16.00 waktu setempat, meski Hizbullah tidak meluncurkan serangan balasan dalam periode yang sama.
Bagi pasar energi global, pembukaan Hormuz adalah sinyal yang sudah lama ditunggu. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah selat ini buka, tapi seberapa cepat aliran minyak kembali normal dan seberapa solid MoU 1,5 halaman itu ketika diuji realita.