RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Selat Hormuz Membara: AS Serang Iran, Teheran Bala...

Internasional

Selat Hormuz Membara: AS Serang Iran, Teheran Balas 21 Target Militer

Selat Hormuz kembali membara. Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan ke Iran selatan menyusul jatuhnya helikopter Apache, dan Teheran langsung membalas dengan menyasar pangkalan-pangkalan AS di seluruh kawasan.

Drone Iran Diduga Jatuhkan Apache, AS Kembali Serang Iran

Ledakan pertama terdengar di Pulau Qeshm sekitar pukul 04.00 WIB, Rabu (10/6/2026). Dalam hitungan jam, Selat Hormuz berubah menjadi ajang baku serang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran, bermula dari satu helikopter serang AH-64 Apache milik Angkatan Darat AS yang jatuh setelah bertabrakan dengan drone Iran di perairan dekat pantai Oman pada Selasa dini hari.

Kedua awaknya selamat. Mereka ditemukan kapal permukaan nirawak Corsair milik Angkatan Laut AS sekitar dua jam setelah insiden, lalu dijemput helikopter dari lokasi lain di laut. Penyelamatan itu tercatat sebagai yang pertama kalinya dilakukan kapal nirawak dalam sejarah militer AS. Corsair, sepanjang 7,3 meter, buatan Saronic Technologies, beroperasi di bawah Task Force 59, memang dibentuk pada 2021 khusus untuk keamanan maritim di kawasan ini.

Awalnya Trump meremehkan insiden itu. "Bukan masalah besar," katanya, merujuk pada selamatnya kedua pilot. Tapi setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine memberikan pengarahan di Gedung Putih, termasuk konfirmasi soal drone Shahed Iran yang menghantam Apache, pikiran Trump berubah. "Saya yakin responsnya harus sangat kuat, sangat dahsyat, dan itulah yang dilakukan kali ini," ujarnya kepada ABC News.

Serangan AS dimulai pukul 04.00 WIB. Centcom menyatakan jet-jet tempur AS membidik sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan situs radar pengintaian Iran di sekitar Selat Hormuz sebagai operasi "pertahanan diri". Dua puluh target diklaim dihancurkan, termasuk menara telekomunikasi. Ledakan mengguncang Bandar Abbas, kota pelabuhan Sirik, dan kawasan Jask dekat pintu masuk selat. Sempat mereda, gelombang kedua menyusul.

Iran tidak tinggal diam. Korps Garda Revolusi Islam mengumumkan serangan balasan terhadap 21 target militer AS di seluruh kawasan Timur Tengah. Masif, dan terencana. Pangkalan udara serta pangkalan laut yang menampung pasukan AS jadi sasaran: dari markas Armada Kelima di Bahrain hingga pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait. Militer Kuwait mengonfirmasi serangan itu, meski mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat seluruh target. IRGC juga mengklaim menembak jatuh drone AS jenis MQ-9 Reaper di atas Provinsi Bushehr.

Paling ambisius: serangan ke Yordania. Kompleks pangkalan Al-Azraq, yang mencakup hanggar jet F-35 dan pusat komando militer, dibidik dengan rudal jarak jauh. Angkatan Bersenjata Yordania melaporkan berhasil mencegat lima rudal yang diluncurkan dari wilayah Iran. Puing-puing jatuh di dalam wilayah Yordania, tanpa korban jiwa.

Teheran sejak awal membantah punya andil dalam insiden Apache. Sumber militer anonim Iran menyebut tidak ada operasi udara ofensif di Selat Hormuz dalam 24 jam sebelum helikopter jatuh. Klaim yang patut dicermati, mengingat belum ada konfirmasi resmi dari pihak mana pun soal apakah tabrakan itu disengaja. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memilih jalur retorika di X: "Pasukan asing yang berada di dekat wilayah kami terus-menerus menghadapi risiko akibat kesalahan manusia mereka sendiri, kecelakaan biasa, atau kemungkinan terjebak dalam baku tembak. Untuk mengurangi risiko, solusi terbaik adalah mereka pergi."

Pesannya terang.

Eskalasi ini menghantam prospek damai yang sudah tipis. Dua hari sebelumnya, Trump sesumbar kesepakatan bisa ditandatangani "dalam dua atau tiga hari". Klaim yang kini terasa bak lelucon pahit. Pakistan sebagai perantara utama belum memberi sinyal bagaimana perundingan akan berlanjut setelah malam ini. Dua posisi tidak bergerak sejak gencatan senjata awal disepakati dua bulan lalu: AS masih menuntut Iran menyerahkan stok uranium yang diperkaya tinggi, Iran masih menolak dan meminta pencabutan sanksi serta pencairan aset duluan.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf punya kata-kata yang lebih keras. Pernyataan Trump soal kemungkinan kesepakatan, kata Qalibaf, justru membuktikan Washington tidak benar-benar menginginkan gencatan senjata ataupun dialog. Entah ia benar atau tidak, malam ini senjata berbicara lebih keras dari diplomat mana pun.