RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Strava Serius Garap Hiking: 195 Juta Pengguna Kini...

Tekno

Strava Serius Garap Hiking: 195 Juta Pengguna Kini Punya Fitur Navigasi Jalur Lengkap

Strava merilis pembaruan besar khusus hiking, mencakup navigasi offline, peta 3D, hingga sinkronisasi ke Garmin dan Apple Watch. Langkah ini merespons lonjakan klub hiking 5,8 kali lipat sepanjang 2025.

Strava Rilis Fitur Hiking Baru Bikin Navigasi Jalur Makin Mudah | Nextren

Klub hiking di Strava tumbuh 5,8 kali lipat sepanjang 2025. Agaknya angka itulah yang membuat perusahaan asal San Francisco ini memutuskan hiking bukan lagi fitur sampingan, melainkan salah satu pilar utama platform.

Pada 11 Juni 2026, Strava resmi mengumumkan serangkaian pembaruan besar yang dirancang khusus untuk aktivitas mendaki. Pembaruan ini mencakup perencanaan rute, navigasi jalur, pelacakan aktivitas, hingga fitur sosial untuk berbagi pengalaman ke komunitas. Dengan lebih dari 195 juta pengguna di 185 negara, Strava punya kapasitas serius untuk jadi rujukan utama komunitas hiking global, bukan sekadar aplikasi lari.

Untuk perencanaan perjalanan, tampilan peta diperbarui agar memuat informasi jauh lebih kontekstual: permukaan jalur, titik awal pendakian, area piknik, sampai lokasi perkemahan. Pengguna gratis bisa menikmati semua ini. Bagi pelanggan berbayar, ada tiga fitur lanjutan: Penemuan Rute, Pembuat Rute, dan Penyimpanan Rute. Ketiganya bekerja berurutan, cari jalur populer berdasarkan data aktivitas global, rancang sendiri rute dengan estimasi jarak dan elevasi aktual, lalu simpan langsung di aplikasi. Bak satu ekosistem perencanaan dalam genggaman.

Di sisi navigasi, Strava menghadirkan Peringatan Keluar Rute, notifikasi real-time saat pendaki menyimpang dari jalur yang sudah direncanakan. Relevan terutama untuk jalur minim penanda fisik. Lebih praktis lagi, navigasi kini bisa berjalan langsung dari Apple Watch tanpa harus memegang ponsel, dan rute yang dibuat di Strava dapat disinkronkan ke perangkat Garmin, Apple Watch, serta Coros yang kompatibel. Untuk area dengan sinyal buruk, fitur rute offline memastikan navigasi tetap bisa diakses.

Peta Aktivitas 3D mungkin yang paling mencolok. Fitur ini memungkinkan pengguna melihat rute yang sudah ditempuh dalam bentuk lanskap tiga dimensi, lengkap dengan topografi dan elevasi. Dari situ, Flyover melangkah lebih jauh: menghasilkan animasi 3D dari rute berdasarkan data elevasi sebenarnya. Keduanya eksklusif untuk pelanggan berbayar, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, setidaknya begitu klaim Strava. Seberapa mulus eksekusinya di lapangan? Itu urusan lain.

Sisi sosialnya ikut diperbarui. Stiker statistik memuat jarak, elevasi, dan durasi untuk dibagikan ke media sosial. Ada juga Ulangi Aktivitas, yang menampilkan ulang rekaman pendakian di beranda sehingga teman sesama pengguna bisa menyaksikan rute dari awal hingga akhir.

Sebagian besar fitur sudah tersedia di aplikasi. Satu yang belum hadir: pembaruan gaya peta, dijadwalkan bergulir September hingga Oktober 2026.

Komunitas hiking Indonesia yang selama ini lebih akrab dengan aplikasi peta offline kini punya alasan nyata untuk melirik Strava lebih serius. Pertanyaannya tinggal satu: seberapa akurat data jalur lokal yang tersedia di platform ini?