RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Struk SPBU Sebut Harga Asli Pertalite Rp 18.040/Li...

Bisnis

Struk SPBU Sebut Harga Asli Pertalite Rp 18.040/Liter, Pertamina Buka Suara

Struk SPBU yang memperlihatkan harga asli Pertalite Rp 18.040 per liter memancing pertanyaan publik. Pertamina pun buka suara, menjelaskan selisih antara harga keekonomian dan harga jual bersubsidi yang dibayar masyarakat saat ini.

Pertamina Buka Suara soal Harga Asli Pertalite Rp 18.040/Liter

Angka Rp 18.040 per liter mendadak bikin heboh. Tertera pada struk pembelian BBM di SPBU Pertamina, angka itu membingungkan banyak konsumen yang selama ini mengira Pertamax, BBM "kelas atas", lebih mahal dari Pertalite. Nyatanya, harga "asli" yang tercantum justru sebaliknya.

PT Pertamina Patra Niaga akhirnya angkat bicara. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan bahwa angka di struk itu bukan harga jual. Itu harga keekonomian, nilai ekonomi BBM yang dihitung dari komponen harga pasar dan biaya penyediaan energi. "Pertamina Patra Niaga bertindak sebagai operator yang menjalankan dan mematuhi kebijakan Pemerintah terkait penyaluran BBM bersubsidi. Harga jual Pertalite yang dibayarkan masyarakat saat ini adalah harga yang telah ditetapkan pemerintah dengan mempertimbangkan berbagai aspek sosial dan ekonomi," kata Roberth dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6/2026).

Pertalite masuk kategori Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan (JBKP), dengan kata lain, disubsidi negara. Pertamina Patra Niaga hanya operator pelaksana. Soal berapa besar subsidinya, itu sepenuhnya urusan pemerintah.

Lantas bagaimana Pertamax bisa lebih murah? Roberth menjelaskan, Pertamax adalah BBM non-subsidi yang mengikuti dinamika pasar, tapi pelaksanaannya tetap dikoordinasikan dengan pemerintah demi menjaga stabilitas harga nasional. Pada periode sebelumnya, harga Pertamax bahkan sempat ditahan agar tidak melonjak. Penyesuaian terakhir dilakukan pada 10 Juni 2026, dengan menimbang kondisi ekonomi, daya beli masyarakat, keberlanjutan fiskal, dan keberlangsungan usaha. Langkah yang sama juga dilakukan badan usaha swasta pengelola SPBU lain.

Satu hal yang agaknya luput dari perhatian publik: harga Pertamax saat ini pun belum sepenuhnya mengikuti harga keekonomian pasar internasional. Kalau memang mengacu penuh ke sana, kata Roberth, harga jualnya mestinya lebih tinggi dari harga Pertalite tanpa subsidi. Artinya, selisih yang terlihat di struk itu cermin betapa besar subsidi yang masih ditanggung negara.

Dari ujung timur, ada cerita lain. Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Pertalite dilaporkan kerap kehabisan di sejumlah SPBU. Pertamina memastikan pasokan tetap terjamin dan sedang berupaya mengatasi kendala distribusi di wilayah itu, tantangan geografis NTT memang bukan urusan sepele.

Subsidi BBM, pada akhirnya, bukan semata persoalan korporasi. Selama harga minyak dunia bergejolak dan daya beli masyarakat menengah bawah masih rapuh, tekanan untuk mempertahankan skema ini tidak akan hilang. Dan beban fiskalnya? Perdebatan panjang yang belum ada tanda-tanda selesai.