RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Su-35 vs Rafale di Baltik: Duel Udara yang Masih B...

Internasional

Su-35 vs Rafale di Baltik: Duel Udara yang Masih Bikin Analis Ribut

Pertemuan langsung antara jet tempur Su-35 Rusia dan Rafale Prancis di atas Laut Baltik memantik perdebatan serius di kalangan analis militer soal keunggulan komparatif kedua platform tempur itu.

Menganalisis keunggulan pesawat tempur Su-35 atas Rafale setelah pertemuan mereka di Laut Baltik.

Dua jet tempur dari dua doktrin militer yang berbeda bertemu di langit Laut Baltik. Komunitas analis militer internasional belum selesai memperbincangkannya.

Insiden itu bermula ketika Su-35 milik Angkatan Udara Rusia (VKS) menjalankan misi pengawalan terhadap sekelompok pesawat Rusia, termasuk pesawat pengintai An-30 serta pesawat serang Su-24M dan Su-34. Dua Rafale Prancis yang lepas landas dari pangkalan udara Siauliai di Lithuania, sebagai bagian dari misi NATO air policing, kemudian mendekati formasi itu. Pertemuan singkat itulah yang memicu perdebatan panjang.

Military Watch, majalah analisis pertahanan yang kerap mengangkat perbandingan alutsista, menjadikan insiden ini titik tolak untuk membedah kapabilitas kedua platform secara lebih serius. Bukan kebetulan pilihan itu. Su-35 dan Rafale memang mewakili dua filosofi desain yang berbeda secara fundamental.

Su-35, yang di NATO diberi kode "Flanker-E", adalah evolusi ekstrem dari keluarga Su-27 yang legendaris. Mesin AL-41F1S dengan thrust vectoring tiga dimensi memberinya kemampuan manuver post-stall yang, jujur saja, sulit ditandingi pesawat Barat mana pun dalam dogfight jarak dekat. Radar Irbis-E-nya diklaim mampu mendeteksi target berukuran tiga meter persegi dari jarak lebih dari 400 kilometer, angka yang masih diperdebatkan validitasnya oleh analis independen, tapi tetap mengesankan secara nominal. Kelincahan ekstrem itu kartu truf Rusia sejak era Soviet.

Rafale berdiri di ujung spektrum yang berbeda. Pesawat buatan Dassault Aviation ini dirancang bukan untuk menonjol di satu dimensi, melainkan untuk kompeten di semua misi sekaligus: superioritas udara, serangan darat presisi, hingga misi nuklir taktis. Sistem avioniknya, termasuk radar AESA RBE2 dan suite peperangan elektronik SPECTRA, dianggap lebih mutakhir dalam hal integrasi data dan situational awareness. Pendekatan Eropa yang lebih terobsesi pada sensor dan jaringan ketimbang gitek aerodinamika murni.

Pertanyaannya bukan siapa yang lebih cepat atau lebih lincah. Siapa yang lebih dulu menarik pelatuk dengan informasi yang cukup akurat?

Di sinilah perdebatan menajam. Keunggulan manuver Su-35 relevan jika pertempuran masuk ke within-visual-range (WVR), skenario yang semakin jarang menjadi acuan doktrin NATO. Aliansi itu lebih mengandalkan beyond-visual-range (BVR) engagement. Rafale dengan rudal Meteor, yang punya no-escape zone terluas di kelasnya, justru akan berusaha menyelesaikan pertempuran sebelum kedua pesawat saling melihat secara visual. Bak pedang bermata dua: keunggulan manuver Su-35 bisa tak pernah sempat terpakai kalau Meteor keburu bekerja.

Insiden Baltik ini agaknya tidak akan menghasilkan kesimpulan definitif soal supremasi salah satu platform. Ia mengingatkan bahwa di sepanjang perbatasan timur NATO, pertemuan semacam ini bukan fiksi atau simulasi. Rutinitas, bukan latihan. Dan pilihan alutsista yang diparkir di Siauliai bukan sekadar soal anggaran pertahanan, melainkan kalkulasi strategis yang sangat nyata.