Rupiah ditutup di Rp 17.936 per dolar AS pada Kamis (23/7), melemah 19 poin atau 0,11 persen dari penutupan sebelumnya. Angka yang kelihatan kecil, tapi cerita di baliknya jauh lebih besar dari sekadar 19 poin.
Sentimen global sedang tidak bersahabat. Federal Reserve, yang sempat diharapkan mulai melonggarkan kebijakan moneter, tampaknya belum akan bergerak ke arah sana dalam waktu dekat. Allianz Global Investors (AllianzGI) bahkan memproyeksikan bank sentral AS itu masih akan menaikkan suku bunga acuan sebesar total 50 basis poin sepanjang paruh kedua 2026, didorong oleh inflasi inti yang membandel di atas target. Datanya bicara sendiri: Core PCE per Mei 2026 tercatat 3,4 persen secara tahunan. Bukan angka yang memberi ruang bagi The Fed untuk bersantai.
Tiffani Safinia dari Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) menyebut pelemahan rupiah hari ini terutama dipicu sentimen global. "Pelemahan rupiah ke Rp 17.936 per dolar AS, terutama dipengaruhi sentimen global, yakni masih kuatnya dolar AS akibat ekspektasi Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama," ungkap Tiffani kepada Antara, Kamis (23/7/2026). Pasar masih memperkirakan setidaknya satu kali lagi kenaikan suku bunga hingga akhir tahun, sementara pertemuan FOMC pekan depan agaknya hanya akan menghasilkan keputusan tahan dengan nada yang tetap hawkish.
Kondisi ini mendorong aliran dana global terus mengalir ke aset berbasis dolar, menekan hampir semua mata uang negara berkembang. "Penguatan rupiah masih terbatas karena selisih suku bunga dengan AS belum cukup menarik arus modal asing, di tengah permintaan valas domestik yang masih tinggi," kata Tiffani. Kurs JISDOR Bank Indonesia turut tergerus ke Rp 17.919 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.909.
Bank Indonesia memilih bertahan di BI-Rate 5,75 persen. Sinyal bahwa otoritas moneter memang memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan inflasi. Ruang manuvernya sempit, tapi pilihannya masuk akal.
Buat IHSG, tekanan ini bisa lebih terasa. Head of Equity AllianzGI Indonesia Octavius Prakarsa menjelaskan, suku bunga AS yang lebih tinggi cenderung memperkuat dolar sekaligus mengerek daya tarik aset-aset di AS. Hasilnya? Arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang, setidaknya untuk jangka pendek. "Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat memberikan tekanan terhadap IHSG, terutama pada sektor-sektor dengan kepemilikan investor asing yang tinggi dan sektor yang sensitif terhadap kondisi likuiditas global. Namun, volatilitas yang dipicu oleh faktor eksternal seperti perubahan kebijakan The Fed umumnya bersifat sementara dan tidak mengubah prospek jangka panjang pasar saham Indonesia," ujar Octavius.
Fundamental domestik, kata Octavius, masih relatif solid. Inflasi terkendali, makroekonomi membaik, dan Indonesia masih punya daya tarik dibanding banyak peers di emerging market. Bisa jadi itu yang bikin pasar tidak langsung panik.
Soal strategi, AllianzGI menyarankan pendekatan selektif berbasis kualitas. Perusahaan dengan arus kas kuat, neraca sehat, pricing power, dan pertumbuhan laba yang konsisten dinilai punya ketahanan lebih baik ketika kondisi keuangan global makin sengit. "Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, kemampuan memilih saham secara aktif menjadi semakin penting," tegas Octavius.
Pertanyaannya, berapa lama skenario ini berlanjut? Tim CIO AllianzGI menyinggung bahwa pasar sempat terlalu optimistis soal kemungkinan pelonggaran kebijakan pasca pergantian kepemimpinan di The Fed. "Kami melihat pasar sempat terlalu optimistis bahwa pergantian kepemimpinan di Federal Reserve akan membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter. Namun, prioritas utama The Fed tetap memulihkan kredibilitas dalam menjaga stabilitas harga. Selama inflasi masih bertahan di atas target, kebijakan yang lebih ketat masih menjadi skenario yang paling mungkin," tulis Tim CIO AllianzGI.
Bagi investor ritel, ini bukan waktu terbaik untuk agresif masuk ke saham-saham yang selama ini jadi incaran asing. Volatilitas jangka pendek nyata adanya. Dan kalau data inflasi AS bulan depan kembali mengejutkan ke atas, koreksi bisa lebih dalam dari yang sudah diantisipasi.