Sepuluh hari setelah resmi ditendang dari indeks MSCI, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) justru duduk di puncak daftar net buy asing pada sesi pertama perdagangan Senin (15/6), dengan nilai bersih Rp285,93 miliar dari volume 142,57 juta saham. Ironis? Bisa jadi. Atau memang pasar sedang mencium sesuatu yang belum sepenuhnya terbaca.
Berbarengan dengan itu, IHSG langsung melesat 5,03 persen atau 302 poin ke level 6.309 di sesi I. Dana asing mencatat net buy Rp257,80 miliar di seluruh pasar, dari total transaksi Rp17,2 triliun. Arus masuk paling deras lari ke TPIA, mengalahkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di posisi kedua dengan Rp257,56 miliar, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) di posisi ketiga dengan Rp245,39 miliar.
Angka-angka ini terasa lebih mencolok kalau diletakkan dalam konteks yang lebih panjang. Sepanjang 2026, TPIA sudah kehilangan sekitar 73 persen nilainya. Keluarnya saham ini dari MSCI memaksa banyak investor institusi global menyesuaikan portofolio, dan akibatnya arus keluar asing dari TPIA diperkirakan sudah tembus Rp4,9 triliun sejak awal tahun. SCG Chemicals (SCGC) ikut melepas sekitar 14,86 persen kepemilikannya di harga rata-rata Rp1.123 per saham, transaksi yang sempat memunculkan kekhawatiran tekanan jual belum akan berakhir.
Tapi ada sisi lain dari cerita itu. Setelah SCGC melepas posisinya, porsi saham publik atau free float TPIA melonjak ke sekitar 25,7 persen, sementara tiga pemegang saham utama masih menggenggam 74,3 persen sisanya.
Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menyebut perubahan ini sebagai sinyal yang bisa mengubah persepsi investor institusi terhadap TPIA. "Ketika free float sudah berada di atas ambang batas tertentu, misalnya di atas 15%, maka saham tersebut menjadi lebih layak untuk masuk dalam radar investasi mereka," kata Nafan kepada wartawan, Sabtu (13/6). Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa free float adalah salah satu variabel krusial dalam perhitungan bobot indeks global seperti MSCI dan FTSE. Jika bobot TPIA dalam indeks-indeks itu naik, passive funds yang menjadikan keduanya sebagai acuan berpotensi ikut memborong saham ini.
Data investor ritel juga cukup berbicara. Per 31 Mei 2026, jumlah pemegang Single Investor Identification TPIA bertambah 11.469 orang menjadi total 38.456 SID. Ketika asing keluar, ritel lokal justru masuk, mengakumulasi di harga-harga yang sudah jauh di bawah puncaknya.
Pergerakan harga beberapa hari terakhir menggambarkan betapa volatilnya saham ini. Setelah sempat dihajar ke level 1.305 pada 5 Juni, TPIA bangkit hampir 23 persen ke 1.605 pada 8 Juni, lalu meledak lebih dari 21 persen ke 1.955 sehari berikutnya. Pada 10 Juni terkoreksi sekitar 5 persen ke 1.855. Pola ini menunjukkan bahwa setiap kali harga melemah, ada saja yang menunggu dengan kantong siap.
Secara teknikal, ada gap harga yang cukup menganga di kisaran 2.600 dan 3.000, sisa dari kejatuhan pasca-MSCI. Area itu agaknya akan terus jadi magnet selama sentimen terus membaik.
Risikonya masih nyata. Belum ada kepastian TPIA akan kembali masuk MSCI di evaluasi berikutnya, dan potensi aksi jual lanjutan dari pemegang saham besar masih membayangi. Pertanyaannya, berapa lama momentum hari ini bisa bertahan? Dengan free float yang lebih tebal, basis investor yang melebar, dan asing yang mulai mengintip lagi, TPIA hari ini bukan lagi sekadar saham yang ditinggalkan.