Dari 320 perusahaan karoseri di Jawa Barat, kini tinggal sekitar 230 yang masih bernapas. Sisanya tutup atau mati suri, dan bagi sebagian besar dari mereka, penyebabnya satu: truk China yang datang sudah bawa baknya sendiri.
Inilah yang tengah menggerogoti industri karoseri Indonesia, khususnya segmen dump truck untuk pertambangan. Truk-truk impor asal Tiongkok masuk dalam kondisi Complete Build-Up (CBU), eh, bukan. Bukan em dash. Masuk dalam kondisi CBU: sudah ada baknya, sudah siap dipakai. Tidak ada celah bagi karoseri lokal untuk mengambil peran apa pun.
Syarifuddin Tangka, Direktur PT Metalindo Teknik Utama (MTU), tidak menyembunyikan frustrasinya. Dua sampai tiga tahun terakhir, ia menyaksikan satu per satu rekan sesama pengusaha karoseri menutup usaha. "Contohnya saat belum ada impor truk China ini, orderan kita itu bisa 30 sampai 50 unit tiap satu bulannya. Sekarang ya jangan harap, 1 atau 2 orderan saja yang masuk," ujarnya di pabrik MTU, Karawang, Kamis (4/6/2026). Bukan sekadar penurunan. Nyaris kehancuran total.
Yang bikin situasi ini terasa lebih pahit adalah soal aturan main yang timpang. Industri lokal wajib memenuhi standar Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), wajib patuh regulasi ODOL soal dimensi kendaraan, dan dipaksa naik kelas ke emisi Euro4. Truk-truk impor itu? Sebagian masih datang dengan mesin Euro2 atau Euro3, dan soal dimensi seolah tidak ada yang mengawasi.
"Kita dibatasi dengan aturan, misalnya aturan ODOL yang harus kita patuhi. Sementara truk impor ini dari sisi emisi saja ada yang masih Euro2, Euro3, sementara kita dipaksakan Euro4 dengan teknologinya kita. Itu betul-betul miris. Karena kita dipaksakan untuk mengikuti aturan yang ada, sementara yang impor jauh dari itu, belum lagi kalau bicara ukuran dimensinya, sudah betul-betul tidak ada aturan kalau mobil impor," tegas Syarifuddin.
Data dari laporan dealer mengonfirmasi dalamnya luka di sektor ini. Pasar segmen pertambangan disebut tergerus antara 10 hingga 30 persen dibanding tahun sebelumnya, angka yang bisa diverifikasi lebih lanjut melalui data Gaikindo. Cukup untuk bikin siapa pun gelisah.
Protes sudah berulang kali dilayangkan. Askarindo mengaku sudah vokal menyuarakan persoalan ini ke kementerian, termasuk dalam pertemuan-pertemuan resmi. Tapi arus truk CBU dari China belum juga mereda.
Ada ironi yang sulit diabaikan: pelaku usaha yang patuh regulasi justru paling terpukul, sementara produk impor yang diduga melanggar aturan bebas mengisi pasar. Pertanyaannya, sampai kapan pemerintah membiarkan lapangan bermain yang miring ini?