Trump memperingatkan Israel bahwa Washington tidak akan turun tangan jika negara itu memilih melanjutkan serangan terhadap Iran, sebuah sinyal tegas yang muncul setelah rentetan baku hantam yang mengguncang kawasan dalam dua hari terakhir.
Benarkah sinyal keras itu.
Sebelum pernyataan itu bocor ke publik, Axios sudah melaporkan bahwa Trump secara langsung menyampaikan pesan tersebut kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pesannya gamblang: kalau Israel mau meneruskan konflik, lakukan sendiri tanpa payung AS.
Tapi Trump sendiri agaknya tak kehilangan tidur soal itu. Kepada Sky News, ia bilang, "Saya tidak berpikir itu akan terjadi. Semuanya berjalan sangat baik. Iran melakukan apa yang harus mereka lakukan; saya rasa itu tidak akan terjadi, oke?" Nada santai, kontras dengan situasi lapangan yang baru saja melewati fase paling panas.
Kronologinya cukup dramatis. Pada 7 Juni, Iran menembakkan sejumlah rudal ke wilayah utara Israel, memicu peringatan serangan udara berulang kali di Haifa dan kota-kota sekitarnya. Serangan itu meletus beberapa jam setelah Teheran menyatakan akan membalas aksi militer Israel di pinggiran Beirut. Militer Israel lalu membalas, menyerang sasaran militer di wilayah tengah dan barat Iran. Keesokan harinya, 8 Juni, komando militer Iran mengumumkan penghentian serangan.
Israel ikut berhenti. Menurut laporan Channel 12 Israel, penghentian itu datang atas permintaan langsung Trump. Bukan kebetulan.
Pertanyaannya sekarang sederhana: apakah gencatan ini bertahan, atau cuma jeda sebelum babak berikutnya? Timur Tengah punya rekam jejak panjang soal eskalasi yang dimulai dari hal-hal yang sudah dikira "selesai".