RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Keluarkan 'No More Mr Nice Guy' ke Iran, Per...

Internasional

Trump Keluarkan 'No More Mr Nice Guy' ke Iran, Perundingan Nuklir Kian Buntu

Trump mengunggah foto AI dirinya bersenjata dengan latar ledakan di Iran, seiring negosiasi nuklir yang mediasi Pakistan itu kembali terhenti. Teheran menolak bicara di bawah tekanan.

Foto itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Trump mengunggahnya sendiri di Truth Social: gambar hasil AI yang memperlihatkan dirinya mengenakan jas hitam, berkacamata hitam, menggenggam senapan serbu, dengan rentetan ledakan di lereng gunung berlatar langit Iran. Di atas foto itu, tercetak besar-besar: No More Mr Nice Guy.

Pesan verbal yang menyertai foto tersebut tak kalah keras. "Iran tidak bisa mengatur diri mereka sendiri. Mereka tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka sebaiknya segera bertindak cerdas!" tulis Trump di Truth Social, Rabu (29/4/2026).

Bukan gertakan tanpa konteks. Postingan itu muncul persis ketika negosiasi Washington-Teheran, yang dimediasi Pakistan, kembali menemui jalan buntu. Gencatan senjata pertama selama dua pekan berlangsung 7 hingga 22 April. Setelah itu diperpanjang atas permintaan Islamabad, tanpa kejelasan durasi maupun kapan hitungannya dimulai. Putaran kedua negosiasi yang dijadwalkan pekan lalu batal. Delegasi AS yang nyaris terbang ke Pakistan pun urung berangkat.

Beberapa hari sebelumnya, Trump masih terkesan membuka pintu. Dalam wawancara Fox News pada Minggu (26/4), ia bilang Iran bebas menelepon kapan saja. "Jika mereka ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami. Anda tahu, ada telepon. Kami punya saluran telepon yang bagus dan aman," katanya santai. Tapi syaratnya tidak berubah: Iran harus menyerahkan seluruh program nuklir. Tuntutan yang langsung ditolak Teheran.

Tapi itu Minggu. Ini Rabu. Nadanya sudah lain.

Iran, agaknya, sedang berupaya mempertahankan citra tenang. Bandara internasional dibuka kembali, sinyal bahwa Teheran ingin memproyeksikan normalitas, baik ke dalam maupun ke luar negeri. Rob Geist Pinfold, dosen keamanan internasional di King's College London, membaca situasi ini dengan kepala dingin: "Kita telah melewati tahap perang fisik, setidaknya untuk saat ini. Tapi kita masih dalam fase persaingan sengit di mana kedua pihak mencoba memberi sinyal bahwa waktu ada di pihak mereka," kata Pinfold kepada Al Jazeera.

Sementara Trump menekan lewat media sosial, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru sibuk keliling. Islamabad, Muscat, Moskow. Tiga kota dalam satu rangkaian. Araghchi menyebut tujuannya untuk berkoordinasi dengan mitra dan berkonsultasi soal perkembangan regional. Bisa dibaca sebagai diplomasi paralel: membangun koalisi dukungan sebelum kembali ke meja runding.

Iran juga sudah tegas: tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan atau ancaman. Mereka minta semua pihak bicara setara dan dalam kondisi aman. Sulit membayangkan kondisi itu terpenuhi ketika lawan bicara mengunggah foto diri bersenjata dengan latar ledakan di tanah Iran. Kalau data sinyal ini bisa dipercaya, kedua kubu sama-sama yakin waktu berpihak pada mereka.

Dua kubu kini sama-sama bermain jual sinyal. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang lebih keras. Siapa yang pertama berkedip?