Tiga pekan. Itu jeda yang disodorkan Trump untuk menahan laju konflik Israel-Lebanon, diumumkan Kamis (23/4) setelah pertemuan di Gedung Putih antara duta besar kedua negara dengan sang tuan rumah.
Gencatan senjata 10 hari sebelumnya baru diberlakukan Jumat pekan lalu waktu setempat. Washington tampaknya menilai waktu itu belum cukup untuk merajut kesepakatan yang lebih permanen. Lewat media sosialnya, Trump menyebut pembicaraan di Ruang Oval berjalan "sangat baik" dan berharap pertemuan langsung para pemimpin Israel dan Lebanon bisa terwujud "dalam waktu dekat". Klaim yang masih harus dibuktikan di lapangan diplomatik.
Bukan sekadar urusan Israel-Lebanon.
Di balik meja perundingan ada satu nama besar yang tidak hadir secara fisik tapi menentukan segalanya: Iran. Serangan Israel terhadap Hizbullah, kelompok bersenjata Lebanon yang didukung Teheran, menjadi salah satu poin paling krusial dalam negosiasi terpisah antara Washington dan Iran soal program nuklir serta pengaruh regional.
Dua hari sebelum pengumuman perpanjangan ini, Trump sudah memberi sinyal. Ia menyatakan AS bakal memperpanjang gencatan senjata dengan Iran juga, meski tanpa tenggat waktu yang jelas. Rezim Iran, menurut Trump, tengah mengalami "keretakan serius" di internal. Jeda pertempuran akan bertahan, begitu klaimnya, selama Teheran belum mampu menyodorkan "usulan terpadu" ke meja perundingan.
Retorika keras. Tapi ruang negosiasi sengaja dibiarkan terbuka.
Pertanyaannya sekarang, apakah tiga pekan cukup untuk mengubah dinamika yang sudah berlangsung berbulan-bulan? Hizbullah tidak duduk di meja itu. Iran belum memberikan respons resmi. Israel, dengan semua kalkulasi politik domestiknya, belum tentu bersabar lebih lama dari yang diharapkan Washington. Tiga aktor, satu tenggat, dan ruang manuver yang menyempit.