RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Sebut Netanyahu 'Gila', Israel-Lebanon Tetap...

Internasional

Trump Sebut Netanyahu 'Gila', Israel-Lebanon Tetap Capai Gencatan Senjata Baru

Di balik ketegangan keras antara Trump dan Netanyahu lewat sambungan telepon, Washington justru berhasil memediasi pembaruan gencatan senjata Israel-Lebanon. Dua berita yang susah dipisahkan.

Sumpah Serapah Terucap, Hubungan Trump-Netanyahu di Ujung Tanduk

Sambil menyebut Netanyahu "gila" di telepon, Trump ternyata sudah mengantongi satu hasil diplomasi yang ia butuhkan: pembaruan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.

Kedua peristiwa itu terjadi hampir bersamaan. Senin (1/6/2026), Trump dikabarkan meledak dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dua hari berselang, perundingan putaran keempat di Washington menghasilkan pernyataan bersama Israel-Lebanon yang memperbarui gencatan senjata rapuh yang berjalan sejak 17 April lalu. Kebetulan? Agaknya tidak.

Axios dan ABC News melaporkan bahwa dalam telepon hari Senin itu, Trump tidak sekadar kesal. Ia berteriak. "Kamu gila. Kamu sudah masuk penjara kalau bukan karena aku. Aku yang menyelamatkanmu. Semua orang benci kamu sekarang. Semua orang benci Israel karena ini," begitu kutipan yang beredar. Pemicunya: rencana Israel mengebom Beirut yang dinilai Trump bisa menghancurkan meja perundingan dengan Iran.

Trump sendiri, dalam wawancara yang dirilis Rabu (3/6/2026), mengonfirmasi ia memang menyebut Netanyahu "gila" dan mengaku sedikit frustrasi karena eskalasi Israel di Lebanon menghalangi pembicaraan damai dengan Teheran. Toh, ia tetap ngotot hubungannya dengan Netanyahu solid. "Saya sangat menyukai Bibi. Kami selalu menemukan cara untuk menyelesaikan perbedaan kami," ujarnya kepada The New York Post. Netanyahu, tampil di CNBC, menyampaikan nada serupa: perbedaan taktis ada, tapi tujuan tetap satu.

Dua pemimpin itu saling mengakui bertengkar tapi mengklaim baik-baik saja. Situasi di lapangan? Jauh lebih berantakan.

Sebelum gencatan senjata baru disepakati, Israel justru menghajar lebih keras. NNA Lebanon melaporkan lebih dari 20 lokasi di wilayah selatan dihantam pada hari yang sama. Israel juga merebut Benteng Beaufort, situs era Perang Salib abad ke-12, pada akhir pekan lalu. Penetrasi terjauh ke wilayah Lebanon dalam 26 tahun. Bukan pemanasan kecil. Hizbullah menyebut serangannya sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, sementara pejabat seniornya Mahmud Qomati menegaskan mereka tidak akan menerima gencatan senjata parsial.

Namun diplomasi AS tetap bergerak. Perundingan yang berlangsung antara duta besar kedua negara di Departemen Luar Negeri menghasilkan pernyataan bersama yang menyerukan penghentian total tembakan Hizbullah dan evakuasi seluruh anggotanya dari kawasan selatan Sungai Litani. Hizbullah sendiri tidak duduk di meja itu. Kedua pihak juga sepakat membentuk "zona percontohan" di mana tentara Lebanon mengambil kendali eksklusif, mengenyahkan semua aktor non-negara, yang jelas-jelas menyasar Hizbullah beserta backing Iran-nya. Putaran lanjutan dijadwalkan 22 Juni mendatang.

"Kemajuan terus berlanjut di jalur politik dan keamanan saat kita melepaskan diri dari kegagalan 20 tahun terakhir," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott. Klaim yang masih perlu dibuktikan, kalau data ini bisa dipercaya, mengingat Hizbullah belum satu patah kata pun mengakui kesepakatan ini.

Ada kalkulasi politik yang makin mendesak di balik semua ini. Perang yang berlarut-larut dengan Iran telah mendongkrak harga energi dan memperkeruh ketidakpastian ekonomi domestik. Jajak pendapat Pew Research April lalu mencatat 57 persen pemilih Republik berusia 18-49 tahun kini berpandangan negatif terhadap Israel, naik dari 50 persen setahun sebelumnya. Tucker Carlson sampai Marjorie Taylor Greene mulai bersuara keras, menuduh Trump membiarkan Israel menyeret AS masuk lebih dalam ke Timur Tengah.

November 2026 sudah di depan pintu. Kalau Demokrat berhasil rebut Kongres, Trump bisa menghadapi pemakzulan untuk ketiga kalinya. Angka yang tidak main-main.

Netanyahu pun tidak dalam posisi yang lebih nyaman. Dakwaan korupsi domestik, front perang yang menganga di tiga arah sekaligus, ditambah sekutu terbesarnya yang mulai kehilangan sabar. "Netanyahu mati-matian mempertahankan kekuasaannya," kata Mairav Zonszein dari International Crisis Group. Ia menambahkan bahwa Trump sedang mencari exit strategy, sementara Netanyahu masih ingin kembali ke jalur perang. "Di situlah letak perbedaan utama keduanya," papar Zonszein.

Itulah sebetulnya akar dari semua kegaduhan ini: dua pemimpin yang secara publik mengklaim satu visi, tapi di balik layar sedang berjalan ke arah yang berlawanan.