RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Ultimatum Iran, IRGC Balas dengan Peringatan...

Internasional

Trump Ultimatum Iran, IRGC Balas dengan Peringatan Militer ke Warga Timteng

Ketegangan di Laut Merah meledak kembali setelah dua kapal tanker Saudi diserang Houthi. Trump mengancam serangan militer besar ke Iran, sementara IRGC mengeluarkan peringatan mengejutkan agar warga Timur Tengah jauhi gedung-gedung yang diduga ditempati tentara AS.

Dua Kapal Tanker Saudi Diserang, Trump Ultimatum Iran dan Houthi

Dua kapal tanker minyak Arab Saudi diserang di Laut Merah pada Kamis malam. Serangan itu bukan sekadar insiden maritim biasa, buntutnya panjang, dan kini mengancam kestabilan kawasan secara lebih luas.

Donald Trump langsung bereaksi keras. Lewat Truth Social, Presiden AS itu menulis bahwa Washington akan meminta pertanggungjawaban Iran apabila serangan terhadap kapal kargo terulang lagi, menyebut Houthi sebagai "surrogat dan/atau proksi" Teheran. "Hukuman militer besar akan dijatuhkan kepada Iran dan, tentu saja, kepada Houthi itu sendiri," tegasnya. Trump juga menyebut bahwa setiap kerusakan pada kapal kargo akan dibayar menggunakan aset-aset Iran yang dibekukan AS, meski ia tidak merinci mekanismenya.

Ada satu bagian pernyataan Trump yang terdengar ganjil. Ia mengaku "sangat kecewa" karena Houthi "hingga saat ini telah bertindak sangat profesional dan cerdas" sejak serangan Amerika setahun lalu. Pujian yang salah tempat, tapi nadanya jelas: ini dibaca sebagai pengkhianatan atas semacam kesepahaman diam-diam.

Teheran tak tinggal diam. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi memperingatkan bahwa menyita aset negara berdaulat untuk membayar klaim yang tidak berkaitan adalah "preseden yang sangat berbahaya". Jika praktik itu jadi kelaziman, tidak ada aset negara mana pun yang benar-benar aman. "Kekacauan yang akan terjadi tidak akan indah ataupun damai," tulisnya di platform X, Jumat (24/7).

Ancaman saling balas ini muncul bersamaan dengan laporan Reuters yang cukup meledak. Empat sumber, termasuk dua sumber Iran, Menteri Informasi Yaman, dan seorang analis keamanan regional, mengungkap bahwa Iran secara diam-diam mengirim personel IRGC beserta perlengkapan militer ke Yaman pada 13 Juli, menumpang penerbangan Mahan Air dari Teheran. Antara 10 hingga 21 personel, termasuk komandan senior, disebut berada dalam penerbangan itu. Sebagian kargo mencakup komponen rudal jarak pendek dan menengah serta drone, serupa sistem yang pernah dipakai menyerang Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

"Komandan IRGC pergi ke sana untuk mendukung operasi Houthi dan memberikan pelatihan tentang sistem rudal baru," ungkap salah satu sumber, seraya menambahkan bahwa Iran turut mengirim emas untuk mendanai kegiatan Houthi. Bantahan langsung datang dari pejabat media Houthi Abdel Rahman al-Ahnomi, yang mengaku ikut dalam penerbangan tersebut. Ia menyebut semua penumpang adalah warga sipil yang pulang dari pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran.

Narasi resmi Teheran senada: penerbangan 13 Juli itu semata untuk memulangkan delegasi Houthi yang hadir di pemakaman Khamenei, plus warga Yaman yang menjalani perawatan medis di Iran. Versi ini agaknya tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak menjelaskan seluruh cerita. Moammar al-Iryani, Menteri Informasi pemerintah Yaman yang didukung Saudi, mengonfirmasi pengiriman personel dan perlengkapan IRGC berdasarkan informasi intelijen. "Misi mereka adalah memperkuat kemampuan militer milisi dan mempersiapkan mereka untuk mengancam keamanan maritim internasional di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab," katanya kepada Reuters.

Sementara perang narasi berlangsung, eskalasi di lapangan terus merayap naik. Houthi mengumumkan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi sejak 20 Juli, menandai berakhirnya gencatan senjata empat tahun antara Riyadh dan kelompok itu. Tiga hari sebelum blokade itu diumumkan, Reuters melaporkan bahwa Teheran telah meminta Houthi bersiap menutup jalur minyak Laut Merah jika AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran.

Lalu datang peringatan yang paling mengejutkan. Pada Jumat (24/7), IRGC menerbitkan Pengumuman No. 49 Operasi Nashr 2, berisi imbauan kepada warga sipil di seluruh kawasan Timur Tengah agar menjauhi gedung-gedung yang diduga dijadikan tempat persembunyian personel militer AS. Jarak minimumnya: 500 meter. IRGC mengklaim pasukan AS telah meninggalkan pangkalan resmi mereka dan berpindah ke bangunan di area padat penduduk, menjadikan lokasi-lokasi itu sebagai "target sah" serangan.

Langka. Pernyataan semacam ini dari IRGC terbilang jarang, dan tidak main-main implikasinya, terutama bagi negara-negara Teluk yang menjadi basis besar militer Amerika. CENTCOM tidak merespons tuduhan tersebut hingga laporan ini dibuat.

Bagi pasar energi global, kombinasi blokade Houthi di Laut Merah, ancaman penutupan Selat Bab al-Mandab, dan saling gertak antara Washington dan Teheran adalah campuran yang tidak nyaman. Selat itu dilalui sekitar 10 persen perdagangan minyak dunia. Para trader, kalau jeli, sudah mulai melirik posisi mereka sejak kemarin.