RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Valuasi INDF Tertekan di Bawah Rata-Rata Historis,...

Bisnis

Valuasi INDF Tertekan di Bawah Rata-Rata Historis, KB Valbury Patok Target Rp9.150

KB Valbury Sekuritas naikkan target harga INDF ke Rp9.150 setelah kinerja 2025 melampaui proyeksi, ditopang lonjakan agribisnis 31,8% YoY. Dengan P/E 5,1x, saham ini diperdagangkan jauh di bawah rata-rata historisnya.

P/E 2026 di angka 5,1 kali. Itu menempatkan saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) di bawah minus satu standar deviasi dari rata-rata historisnya. Level yang biasanya bikin telinga value investor langsung tegak.

KB Valbury Sekuritas mematok target harga INDF berbasis metode sum-of-the-parts (SOTP) di Rp9.150, jauh melampaui level perdagangan terakhir Rp6.700 pada Jumat (10/4/2026). Potensi upside sekitar 36,5% dan rekomendasi buy dipertahankan. Basis penghitungan target tersebut menggunakan estimasi P/E 2026 sebesar 7,1 kali.

Selisih antara valuasi pasar saat ini dan angka target itu, bisa jadi, mencerminkan bahwa pasar belum sepenuhnya memperhitungkan kinerja fundamental emiten Grup Salim ini.

Soal kinerja 2025, pendapatan INDF mencapai 102,2% dari estimasi KB Valbury dan 100,2% dari konsensus analis. Pas di proyeksi. Laba bersihnya justru lebih menarik: melampaui estimasi KB Valbury sebesar 5,49%, meski masih sedikit di bawah konsensus keseluruhan. Ada keuntungan non-berulang alias one-time gain yang ikut mendongkrak angka tersebut.

"Meskipun terdapat kenaikan biaya bahan baku dan tekanan pada segmen CBP, laba kotor INDF tetap sejalan dengan proyeksi kami," kata analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, dalam risetnya.

Segmen consumer branded products (CBP) memang bukan bintang di laporan tahun ini. Tekanan biaya bahan baku menggerus marginnya. Tapi segmen agribisnis tampil bak penyelamat, membukukan pertumbuhan 31,8% secara tahunan berkat kombinasi volume penjualan yang lebih tinggi dan kenaikan average selling price (ASP). Masif.

Sepanjang 2026, Nurcahyadi memperkirakan segmen Bogasari Flour Mills dan agribisnis bakal terus menopang pertumbuhan laba INDF. Kalau proyeksi itu terbukti, jarak antara valuasi saat ini dan target harga makin sulit untuk diabaikan.

Dengan potensi return lebih dari sepertiga dari harga sekarang, pertanyaannya sederhana: kenapa pasar masih mendiskon INDF sedalam ini?