Vivo tidak main-main dengan X300 Pro.
Smartphone flagship terbaru ini datang dengan senjata yang langsung mencolok: kamera 200 megapiksel. Bukan cuma angka di brosur, ini sinyal bahwa Vivo serius merebut pengguna yang selama ini tak pernah melirik merek lain selain Apple atau Samsung. Pernyataan posisi, bukan sekadar peluncuran produk.
Layarnya? LTPO AMOLED 6,78 inci, resolusi 2800 x 1260 piksel, refresh rate adaptif 120Hz. Standar kelas ini memang sudah tinggi, tapi Vivo menutupnya dengan material kaca premium dan sertifikasi IP68/IP69, dua angka kecil yang artinya besar: perangkat ini dirancang tahan banting, bukan cuma tampan di etalase.
Chipset yang dipilih adalah MediaTek Dimensity 9500, fabrikasi 3nm. Bukan kejutan, tapi tetap kompeten untuk flagship 2026. Dipadukan RAM hingga 16GB dan storage sampai 1TB, kombinasi ini agaknya bukan untuk pengguna yang cuma scrolling Instagram sebelum tidur.
Content creator. Itu target yang paling terang dibidik. Satu terabyte penyimpanan dan RAM 16GB bukan angka yang lahir dari riset pengguna kasual, itu konfigurasi untuk orang yang hidupnya berputar di sekitar file RAW, footage 4K, dan tiga aplikasi editing yang jalan bersamaan.
Apakah X300 Pro mampu menggoyahkan loyalitas pengguna iPhone atau Samsung? Belum bisa dijawab. Angka penjualan yang akan bicara. Tapi satu hal yang sulit disangkal: Vivo sudah datang ke meja yang tepat, dengan kartu yang tidak bisa dibuang begitu saja.