RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Wamenlu Anis Matta: BOP Mustahil Jalan, Timur Teng...

Internasional

Wamenlu Anis Matta: BOP Mustahil Jalan, Timur Tengah di Persimpangan Tiga Skenario

Di tengah perang Iran-Israel yang belum mereda, Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta menegaskan bahwa inisiatif Board of Peace dan pengiriman pasukan perdamaian bukan sekadar tertunda, tapi tak mungkin dilaksanakan dalam kondisi saat ini.

After the War: Rethinking Regional Security in the Middle East – Arab Reform Initiative

Satu paket, satu nasib. Begitulah Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta menggambarkan relasi antara Board of Peace (BOP) dan International Stabilization Force (ISF) ketika ditanya soal kelanjutan dua inisiatif yang sempat menyedot perhatian publik Indonesia itu. Keduanya, kata dia, tidak bisa berjalan dalam kondisi geopolitik Timur Tengah yang saat ini jauh dari kata kondusif.

Dalam wawancara khusus di Jakarta, Senin (8/6/2026), Anis menegaskan bahwa pemerintah sudah mengambil sikap tepat dengan menunda semua perbincangan soal BOP. "Kondisi di lapangan tidak memungkinkan itu dilakukan," ungkapnya. "BOP, ISF ini kan satu paket semuanya. Jadi saya kira ini ditunda."

Tapi "ditunda" agaknya terlalu halus untuk menggambarkan situasinya. Anis sendiri bilang bahwa ide BOP dan ISF "tidak mungkin dilaksanakan saat ini", framing yang jauh lebih keras dari sekadar penundaan administratif. Tunggu. Frasa itu pun perlu dicermati: bukan sekadar jeda, melainkan diagnosa bahwa kondisi lapangan bergerak ke arah yang berlawanan dari asumsi awal ketika BOP pertama kali digulirkan oleh Trump sebagai mekanisme tata kelola Gaza pascakonflik.

Anis memetakan tiga skenario besar yang menurutnya sedang bergulat di Timur Tengah. Pertama, perdamaian melalui negosiasi. Kalau ini terwujud, posisi Iran justru relatif diuntungkan karena tujuan-tujuan awal yang diklaim Israel dan Amerika Serikat gagal tercapai: rezim Teheran tidak jatuh, gejolak internal tidak terjadi, kemampuan militer Iran masih bertahan. "Kalau alat ukur kemenangan adalah target yang ditentukan di awal, maka target itu tidak tercapai. Karena itu muncul persepsi bahwa Iran menang dalam ronde pertama," kata Anis.

Skenario kedua: eskalasi perang yang lebih luas. Ronde kedua, kata Anis, akan jauh lebih brutal. Serangan balasan Iran yang kian canggih, potensi serangan terhadap infrastruktur nuklir, keterlibatan negara-negara di luar kawasan, semuanya masuk dalam kalkulasi ini. Bukan skenario yang bisa dianggap enteng.

Skenario ketiga paling insidious: "no peace, no war". Tidak ada kehancuran total, tapi juga tidak ada titik terang. Perang sporadis, serangan siber, pembunuhan target strategis, perang proksi jadi menu harian. Ekonomi regional tergerus perlahan, krisis kemanusiaan menganga, kelompok ekstremis justru makin subur. "Ini adalah skenario yang paling sulit dikelola," kata Anis.

Dari ketiga kemungkinan itu, skenario kedua dan ketiga yang paling terlihat di lapangan saat ini. Perdamaian belum pasti bukan karena absennya niat, melainkan ada pengganggu aktif: serangan-serangan Israel yang masih berlangsung di Lebanon dan sejumlah wilayah Iran. Anis mencatat pergeseran penting dalam posisi diplomatik Teheran, untuk pertama kalinya Iran secara resmi mengaitkan keamanan Lebanon dengan keamanan nasionalnya sendiri. Implikasinya besar. "Iran sekarang mengatakan tidak ada pembicaraan damai kalau Israel masih menyerang Lebanon," jelasnya. Spektrum konflik melebar, proses negosiasi semakin berliku.

Soal proses perdamaian AS-Iran, Anis memilih skeptis. Entah kebetulan atau tidak, yang sedang terjadi sekarang baru sebatas upaya menyusun memorandum of understanding untuk memulai perundingan, bukan perundingan itu sendiri. "Belum perundingannya. Baru MoU untuk berunding. MoU-nya pun belum disepakati. Jadi tidak ada settlement sampai sekarang," tegasnya.

Bagi investor dengan posisi di sektor energi atau eksposur ke aset kawasan, peta yang digambar Anis ini layak dicermati. Konflik yang berlarut tanpa resolusi adalah resep klasik untuk volatilitas harga minyak dan gangguan rantai pasok global. Pertanyaannya, setidaknya untuk saat ini, bukan lagi apakah ini akan berdampak ke sini, tapi seberapa cepat.