RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Warga Iran Turun ke Jalan, Tolak Perjanjian Damai...

Internasional

Warga Iran Turun ke Jalan, Tolak Perjanjian Damai dengan AS yang Disebut Hampir Final

Puluhan warga turun ke jalan di Masyhad, menentang kesepakatan damai yang disebut sudah di tahap akhir negosiasi, dan menuding para negosiator Iran terlalu banyak mengalah.

Warga Iran Demo Tolak Perjanjian Damai dengan Amerika Serikat

Puluhan warga Iran berunjuk rasa di depan Gedung Kementerian Luar Negeri di Masyhad, Sabtu (13/6/2026), melampiaskan amarah atas kabar perjanjian damai dengan Amerika Serikat yang diklaim sudah menyentuh tahap final. Aksi ini bukan protes biasa. Ini sinyal bahwa negosiasi yang berlangsung di balik layar mulai menimbulkan gesekan serius di dalam negeri Iran sendiri.

Sentimen massa di lapangan cukup keras. Seruan "Matilah Araghchi yang tidak terhormat, penyusup" bergema di kerumunan, ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Sehari sebelumnya, Araghchi sempat bicara terbuka soal kemungkinan penandatanganan perjanjian dalam wawancara dengan televisi pemerintah, Jumat (12/6/2026). Bagi para demonstran, pernyataan itu seolah membuka kotak pandora.

Isu sentralnya: Selat Hormuz. Warga yang turun ke jalan menilai kesepakatan ini akan mengikis pengaruh Teheran atas jalur strategis tersebut, sebuah kartu geopolitik yang selama ini jadi salah satu alat tawar paling berharga Iran. Para demonstran juga menuding tim negosiator terlalu banyak memberi konsesi demi mengamankan deal.

Apa yang ada di meja runding? Araghchi menyebut kesepakatan itu menyerukan pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang diberlakukan sebagai respons atas penutupan Selat Hormuz oleh Teheran. Ibarat pedang bermata dua, pencabutan blokade itu bisa dibaca sebagai kemenangan diplomatik sekaligus bukti bahwa Iran terpaksa mengalah lebih dulu.

Dari Washington, Presiden Donald Trump dan mediator Pakistan menyatakan optimistis bahwa perjanjian bisa ditandatangani paling cepat hari Minggu. Teheran agaknya tidak setergesa itu. Pihak Iran terlihat lebih berhati-hati soal timeline, sikap yang entah kebetulan atau tidak justru kontras dengan gegap gempita klaim Trump di luar negeri.

Konflik antara tekanan domestik dan kebutuhan diplomatik bukan hal baru bagi Teheran. Tapi kali ini, penolakan datang bukan dari kubu oposisi yang memang selama ini berseberangan dengan pemerintah, melainkan dari warga yang merasa identitas dan postur geopolitik Iran sedang dipertaruhkan di meja runding. Pertanyaannya, seberapa jauh gelombang ini akan mempengaruhi kecepatan dan substansi kesepakatan akhir?