RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Xbox Disiapkan untuk Dipotong: PHK Massal dan Masa...

Tekno

Xbox Disiapkan untuk Dipotong: PHK Massal dan Masa Depan Project Helix yang Kian Buram

Microsoft tengah menyiapkan gelombang PHK besar di divisi Xbox sekaligus mengevaluasi ulang Project Helix, konsol generasi berikutnya, di tengah tekanan finansial yang memaksa restrukturisasi menyeluruh.

Grand Final MPL ID S17 mempertemukan Onic dan Bigetron by Vitality di Jakarta International Velodrome

Satya Nadella agaknya sudah kehilangan kesabaran dengan divisi yang bertahun-tahun jadi beban neraca.

Microsoft dilaporkan tengah menyiapkan pemutusan hubungan kerja besar-besaran di divisi Xbox, sekaligus mengevaluasi ulang Project Helix, nama kode untuk konsol generasi berikutnya yang selama ini dinanti komunitas gaming. The Information mengungkap bahwa manajemen puncak sudah meletakkan sejumlah opsi di atas meja: mengubah Xbox menjadi anak perusahaan tersendiri, membentuk joint venture, atau melepasnya sebagai entitas independen.

Bukan sekadar rumor koridor. CEO Xbox yang baru, Asha Sharma, dan Nadella sendiri disebut tidak menutup satu pun opsi itu.

Skenario ini memunculkan pertanyaan yang sudah lama menggantung di benak investor dan gamer: apakah Xbox, yang lebih dari dua dekade bersaing keras dengan PlayStation dan Nintendo, akhirnya dianggap tidak cukup strategis untuk tetap berada di inti Microsoft?

Yang bikin situasi ini susah dibaca adalah kontradiksi internalnya. Ada rencana perampingan tenaga kerja berskala besar, tapi Sharma baru saja mengantongi persetujuan untuk berinvestasi besar pada waralaba-waralaba ikonik: Halo dan Fallout. Halo terakhir merilis game baru pada 2021. Fallout 4, judul utama waralaba tersebut, keluar tahun 2015. Lebih dari satu dekade. Sharma juga mengunci Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution sebagai eksklusif Xbox, langkah yang dibaca sebagai upaya mempertegas identitas platform di tengah spekulasi yang kian liar.

Ada logikanya, kalau mau menjual Xbox atau menjadikannya entitas terpisah, valuasinya jauh lebih tinggi bila ia punya IP kuat dan pipeline eksklusif yang meyakinkan. Tapi bagi studio-studio kecil di bawah naungan Microsoft Gaming, sinyal ini tidak semenyenangkan itu. Sumber daya yang makin cekak akan diprioritaskan ke judul-judul dengan ekspektasi penjualan tinggi. Proyek yang kinerjanya loyo? Dipotong lebih dulu.

Evaluasi ulang Project Helix pun perlu dibaca dalam konteks lebih lebar. Industri konsol bergerak ke arah yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada perangkat keras. Xbox Game Pass terus tumbuh dari sisi pelanggan, tapi profitabilitasnya masih jadi tanda tanya, kalau data ini bisa dipercaya. Cloud gaming, streaming, dan model subscription semakin menggerus relevansi siklus konsol tradisional. Bisa jadi Microsoft mempertimbangkan apakah meluncurkan hardware generasi baru memang layak secara bisnis, atau justru sumber daya itu lebih baik dialihkan ke infrastruktur layanan.

Rp nol pun belum masuk kas dari hardware itu. Belum diputuskan.

Kalau opsi spin-off atau penjualan benar-benar terwujud, peta persaingan industri game global akan berubah drastis. Sony dan Nintendo selama ini tumbuh justru karena ada Microsoft sebagai "pengganggu" yang memaksa inovasi dan menekan harga. Tanpa tekanan itu, dinamikanya bisa berbeda, entah kebetulan atau tidak, bagi konsumen arahnya hampir pasti kurang menggembirakan.

Pertanyaannya, berapa lama pasar sabar menunggu jawaban?

Beberapa kuartal ke depan akan jadi ujian buat Sharma. Apakah investasi besar pada IP klasik itu cukup untuk membuat Xbox berdiri lebih kokoh, atau sekadar memoles etalase sebelum ada yang ditawarkan ke pembeli?