Pendapatan tahunan Xbox anjlok hampir setengah miliar dolar dalam lima tahun terakhir, sementara perusahaan sudah menggelontorkan lebih dari USD 20 miliar untuk konten, platform, dan subsidi perangkat keras. Angka yang membuat siapa pun di posisi CEO berpikir keras.
Itulah situasi yang kini diwarisi Asha Sharma, kepala Xbox yang baru. Jawabannya tertuang dalam memo internal bertajuk "Next 100 Days: XBOX Reset" yang kemudian dipublikasikan di blog resmi Xbox pekan lalu. Sharma tidak menyembunyikan kondisi perusahaan: Xbox sedang tidak sehat, margin akuntabilitas hanya 3% di tahun fiskal ini, dan penjualan hardware amblas. Stagnan. Tidak ada kata lain yang lebih tepat.
Dampak paling nyata dari reset ini datang lebih cepat dari yang banyak pihak perkirakan. Compulsion Games, studio di balik South of Midnight yang baru saja tampil di Xbox Showcase bulan lalu, resmi ditutup. Ironis, sebuah studio yang proyeknya masih segar dipresentasikan ke publik kini harus tutup pintu karena Microsoft memutus pendanaannya. Kotaku yang pertama mengonfirmasi keputusan ini. Bagi komunitas pengembang game, kabar itu terasa seperti pukulan telak.
Bersamaan dengan itu, dua pemimpin kunci Xbox Game Studios hengkang. Craig Duncan, yang baru menjabat sebagai kepala Xbox Game Studios sejak Oktober 2024 dan sebelumnya memimpin Rare selama bertahun-tahun, memilih pergi. Louise O'Connor, kepala stafnya, ikut angkat kaki. Dalam hitungan bulan setelah Sharma mengambil alih dari Phil Spencer, susunan eksekutif Xbox sudah berubah drastis.
Belum selesai di situ. Bloomberg melaporkan gelombang PHK pertama dijadwalkan terjadi pada Juli mendatang, tepat setelah tahun fiskal berakhir. Rumor yang beredar menyebut angka 1.000 karyawan terdampak. Xbox menolak berkomentar soal jumlah tersebut, tapi pemotongan anggaran di divisi pemasaran dan sejumlah area bisnis lain sudah dikonfirmasi.
Shama dan Matt Booty, kepala konten Xbox, secara terbuka mengakui dalam memo itu bahwa perusahaan "terlalu memperluas" jaringan studio tanpa dukungan pendanaan yang cukup. "Kami memiliki warisan yang luar biasa, tetapi belum cukup berinvestasi untuk memenangkan pertarungan," tulis mereka. Kalimat yang jujur, dan agaknya menyakitkan bagi banyak karyawan yang membacanya.
Salah satu elemen paling kontroversial dari strategi baru ini adalah keputusan untuk kembali ke model game eksklusif, dengan Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution sebagai ujung tombaknya. Tren industri justru bergerak ke arah sebaliknya. Kasus Final Fantasy 7 Rebirth kerap disebut para analis sebagai cermin retak dari strategi ini: Square Enix merilis game itu sebagai eksklusif PS5, dan hasilnya jauh dari ekspektasi, bahkan dilaporkan gagal mencapai target penjualan yang ditetapkan. Cukup menampar, sampai game ketiga dalam trilogi itu, Final Fantasy 7 Revelation, dikonfirmasi akan rilis di semua platform secara serentak.
Lanskap ekonomi juga tidak membantu argumen eksklusif. PlayStation 4 dulu dijual USD 399, setara sekitar USD 580 dalam nilai uang sekarang. Rumor menyebut PlayStation 6 akan dibanderol USD 900, sementara Project Helix milik Xbox bisa menembus angka di atas USD 1.000. Ketika konsol seharga itu, gamer berpikir dua kali sebelum membeli hanya demi satu atau dua judul eksklusif. Daya tarik "system seller" pelan-pelan memudar, kalau data ini bisa dipercaya.
Xbox juga memangkas harga Game Pass sebagai bagian dari paket strategi ini, setelah laporan menyebut layanan berlangganan itu ditinggal jutaan pelanggan. Apakah penurunan harga cukup untuk membalikkan tren itu? Pertanyaan yang belum ada jawabnya.
Yang jelas, Sharma sedang bertaruh besar: ramping operasional, fokus pada franchise inti, integrasikan AI dari tim CoreAI Microsoft ke dalam struktur baru. Bagi para penggemar dan pengembang, pertanyaannya bukan cuma soal efisiensi. Apakah Xbox masih punya nyali untuk melahirkan IP baru yang berani, justru di saat kantong sedang tipis?