Bukan kabar yang mudah dicerna komunitas gamer: Xbox berhadapan dengan dua tekanan besar sekaligus, gelombang PHK yang dijadwalkan bergulir Juli ini dan krisis industri yang oleh para eksekutif Microsoft sendiri diberi label "RAMageddon."
Sepanjang beberapa pekan terakhir, CEO Xbox Asha Sharma dan kepala strategi Xbox Matthew Ball tampil di berbagai media. Nada bicara keduanya seragam: situasi sekarang tidak biasa, dan respons yang diperlukan pun tidak akan biasa. Sharma blak-blakan soal ini. "Di bidang perangkat keras, kami sedang dalam krisis saat ini, seluruh industri mengalaminya," katanya kepada Fortune.
Pemicunya adalah lonjakan biaya memori dan penyimpanan yang melanda rantai pasokan semikonduktor global. Konsol modern, yang bergantung besar pada komponen tersebut, kini berada di titik yang menurut Sharma sulit dipertahankan dengan model harga konvensional. "Saya pikir kita telah mencapai titik di mana sulit dibayangkan bahwa audiens massal mampu menghabiskan ribuan dolar untuk satu generasi konsol," tegasnya.
Project Helix, nama kode konsol Xbox generasi berikutnya, kini menjadi objek evaluasi menyeluruh. Padahal tidak lama lalu, mantan presiden Xbox Sarah Bond mendeskripsikannya sebagai "pengalaman premium dan kelas atas yang sangat dikurasi", framing yang, kalau data biaya saat ini bisa dipercaya, sudah tidak relevan. Ball, dalam wawancara dengan The Game Business, menyatakan tim Xbox sedang bekerja keras untuk "memikirkan ulang segala hal" terkait Helix, dengan prioritas utama pada keterjangkauan dan fleksibilitas.
Lalu apa konkretnya? Pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab, tapi beberapa opsi sudah mulai terbaca. Salah satunya adalah menghidupkan kembali Xbox All Access, skema cicilan 24 bulan yang menggabungkan perangkat keras dengan langganan Game Pass. Program ini sempat tewas setelah banyak peritel menarik diri. Microsoft juga membuka kemungkinan bagi OEM pihak ketiga untuk memproduksi perangkat bermerek Xbox, melanjutkan apa yang sudah dimulai bersama Asus lewat konsol genggam. Helix sendiri sebelumnya diisyaratkan sebagai hibrida antara konsol dan PC. Kalau OEM lain ikut masuk, harga jual bisa ditekan cukup signifikan.
Front penyimpanan pun ikut bergerak. Sharma menginginkan fleksibilitas jauh lebih besar bagi pengguna. Ini agaknya sinyal bahwa Microsoft akan meninggalkan pendekatan kartu ekspansi eksklusif ala Xbox Series S/X yang selama ini dikeluhkan mahal, dan beralih ke dukungan SSD standar seperti pilihan Sony untuk PS5. "Kami harus memberdayakan pelanggan untuk memiliki opsi penyimpanan yang sangat fleksibel," kata Sharma. Inovasi ini, ia akui, butuh waktu bertahun-tahun.
Di sisi layanan, langkah awal sudah kelihatan. Harga Xbox Game Pass Ultimate dipotong April lalu. Kemitraan dengan Discord menghadirkan edisi starter Game Pass gratis untuk pelanggan Nitro. Xbox Cloud Gaming versi gratis berbasis iklan juga konon sudah digarap lebih dari setahun. Sharma mengisyaratkan "lebih banyak hal" akan diumumkan musim panas ini untuk membuat penawaran Game Pass makin fleksibel.
Microsoft bukan satu-satunya yang tersudut. Penjualan PS5 merosot pasca kenaikan harga. Valve mengerek harga Steam Deck lebih dari 200 dolar bulan lalu. Semua mata kini tertuju pada harga Steam Machine dari Valve yang akan dirilis musim panas ini. Bak gayung bersambut, momen itu berdekatan persis dengan jadwal pengumuman strategi baru Xbox. Kalau Valve berani pasang harga tinggi, Xbox punya ruang. Kalau tidak, tekanan makin berat.
Angka PHK yang mengiringi semua ini belum dirinci terbuka. Sharma menyebut penurunan laba sebagai salah satu konteks di balik restrukturisasi yang sedang berjalan. Musim panas tahun ini akan panjang, setidaknya bagi investor Microsoft dan gamer yang masih menunggu kepastian soal konsol berikutnya.