Xiaomi Indonesia membuka Juli 2026 dengan empat produk wearables sekaligus. Dari keempatnya, Xiaomi Buds 6 agaknya yang paling layak diperbincangkan. Bukan karena spesifikasinya paling canggih, tapi karena ia kembali memainkan kartu lama Xiaomi: fitur premium, harga yang masih menyentuh nalar.
Dibanderol di bawah Rp 2 juta, TWS ini datang dengan klaim audio setelan Harman Golden Ear Team, dukungan Hi-Res Audio Wireless 24-bit/48kHz, Snapdragon Sound, dan ANC. Di atas kertas, itu daftar yang biasanya baru muncul di produk dua kali lipatnya.
Desain semi in-ear yang diusung Buds 6 terasa seperti pilihan yang disengaja. Tidak ada ear tip silikon yang menerobos saluran telinga, cukup mengandalkan kontur daun telinga untuk bertahan di posisi. Bobotnya? Masing-masing buds hanya 4,4 gram. Hasilnya adalah earbuds yang bisa dipakai berjam-jam tanpa telinga protes. Saat diajak jalan cepat atau olahraga ringan pun posisinya terbilang stabil, meski sertifikasi IP54 yang disematkan memberi batas tegas: keringat oke, sesi lari intens pikir dua kali.
Charging case-nya berbentuk persegi pipih dengan tekstur dual-tone yang terasa lebih mahal dari harganya. Buds-nya sendiri, kalau dilihat sekilas, mengingatkan pada AirPods 4: kepala membulat, tangkai pendek. Panel sentuh di sisi tangkai bisa dikustomisasi gesturnya via aplikasi Xiaomi Earbuds, mulai dari kontrol musik, memanggil asisten suara, sampai mengaktifkan subtitle AI dan memotret dari jarak jauh. Fungsionalitas yang jarang muncul di TWS sekelas ini.
Satu hal yang perlu diwaspadai: panel sentuh itu sensitif. Saat menekan untuk memutar atau menjeda lagu, tidak jarang posisi buds ikut bergeser. Pengguna yang terbiasa dengan earbuds in-ear bergaya kunci telingga akan butuh waktu penyesuaian.
Soal suara, Buds 6 mengandalkan dynamic driver 11 mm dengan triple magnetic circuit. Klaim peningkatan sensitivitas frekuensi rendah hingga 40% terasa masuk akal setelah dicoba. Profil default-nya seimbang dan cenderung bassy, cocok untuk pendengar musik elektronik, R&B, atau rock. Tapi profil Harman AudioEFX yang tersedia di aplikasi adalah yang paling menarik. Instrumen dan vokal menonjol dengan proporsi pas, detail lagu berlapis terdengar rapi, dan pemisahan stereo di lagu rock punya dimensi yang memuaskan. Bukan main.
ANC-nya bekerja, tapi dengan catatan penting. Untuk white noise seperti dengung kipas angin atau keributan latar kantor, cukup tangguh. Karena desainnya semi in-ear, segel akustiknya tidak serapat TWS konvensional. Posisi buds di telinga sangat menentukan seberapa efektif peredaman bekerja. Geser sedikit, suara luar langsung menyusup.
Daya tahan baterai mencatat enam jam pemakaian dengan ANC mati di volume 50%, turun ke sekitar tiga jam saat ANC aktif. Charging case menyimpan kapasitas 475 mAh, dan Xiaomi mengklaim total daya pakai bisa mencapai 35 jam. Angka yang kompetitif, kalau data ini bisa dipercaya penuh, walau bukan yang terdepan di kelasnya.
Nilai tambah yang sayang dilewatkan: setiap pembelian Buds 6 menyertakan bonus langganan Spotify Premium Standard gratis tiga bulan, dengan syarat diaktifkan sebelum 8 Agustus 2026. Lumayan untuk menambal efektif harga beli.
Fitur pelacakan tersedia lewat aplikasi Xiaomi Earbuds, Apple Find My, dan Google Find Hub. Satu catatan kecil: jika buds hilang bersama case dalam keadaan tertutup, hanya Apple Find My yang bisa melacak lokasi case. Aplikasi Xiaomi Earbuds tidak akan banyak membantu di skenario itu.
Xiaomi Buds 6 bukan produk tanpa kompromi. ANC-nya kontekstual, panel sentuhnya sensitif, ketahanan baterai masih bisa lebih panjang. Tapi di harga di bawah Rp 2 juta, ia menawarkan ekosistem audio yang serius, profil suara yang bisa dimodifikasi, dan fitur-fitur yang biasanya hanya muncul di bracket lebih mahal. Pembanding paling logis adalah AirPods 4 versi ANC yang harganya jauh di atasnya. Pertanyaannya: seberapa banyak konsumen mau membayar selisih itu hanya untuk nama? Untuk yang tidak mau, Buds 6 punya argumen yang cukup kuat.