IHSG ditutup di 5.594 pada pekan lalu, amblas 245 poin atau setara 4,20 persen dalam sehari. Level terendah sejak era pandemi Covid-19, lebih dalam dari titik nadir 19 Mei 2021 yang waktu itu sempat bikin panik di angka 5.760. Bagi investor yang nyangkut, kabar dari emiten setidaknya jadi sedikit obat.
Sebanyak 27 emiten tercatat membagikan dividen dalam rentang waktu ini, dengan gelombang cum date tersebar dari awal hingga pekan ketiga Juni 2026. Bukan jumlah kecil. Ini memberi kesempatan bagi pemegang saham untuk mengantongi yield tunai di tengah portofolio yang sedang berdarah-darah.
Senin, 8 Juni 2026, tujuh emiten sekaligus membuka giliran pertama. PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI) membagikan dividen Rp6,895 per saham, diikuti PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) sebesar Rp5, dan PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) di angka Rp9,7 per saham. Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) tampil dengan dividen Rp170 per saham, angka yang cukup tebal untuk ukuran emiten otomotif. Melengkapi daftar hari itu: PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) membagikan Rp2,62, PT Kokoh Exa Nusantara Tbk (KOCI) sebesar Rp2, dan PT Citra Tubindo Tbk (CTBN) paling jumbo di antara semuanya dengan dividen Rp465 per saham.
Sehari berselang, dua nama lain masuk jadwal. PT Guna Timur Raya Tbk (GUNA) dan PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE) memasuki cum date pada 9 Juni 2026, dengan dividend yield keduanya dilaporkan menembus 5 persen. Angka yang, kalau data ini bisa dipercaya, cukup kompetitif buat investor berorientasi income di tengah suku bunga acuan yang masih bergerak di kisaran serupa.
Gelombang berikutnya datang pekan ketiga Juni. Mulai 15 Juni, sejumlah nama kembali masuk jadwal: PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) membagikan Rp50 per saham, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) sebesar Rp40, PT Topindo Solusi Komunika Tbk (TOSK) dengan Rp0,45, dan PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) sebesar Rp1 per saham.
Satu hal sering disalahpahami soal mekanisme ini: cum date bukan tanggal pembayaran. Investor harus memastikan posisi saham sudah tercatat sebelum cum date berakhir agar berhak atas dividen. Setelah ex-dividend, harga saham biasanya terkoreksi otomatis sebesar nilai dividen, fenomena yang kerap disalahartikan sebagai koreksi fundamental.
Apakah dividen ini cukup menambal kerugian dari saham yang sudah terjun bebas? Bagi sebagian investor, agaknya tidak. Tapi setidaknya ini membuktikan bahwa di balik grafik merah yang menyala, masih ada emiten yang kinerjanya solid cukup untuk berbagi keuntungan.