RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Airlangga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, tapi Target 20...

Ekonomi

Airlangga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, tapi Target 2027 Bukan Perkara Mudah

Di tengah tekanan global yang tak kunjung reda, pemerintah Indonesia memamerkan deretan angka positif, namun mengakui bahwa mengejar target pertumbuhan 5,8-6,5 persen tahun depan butuh kerja keras lebih dari sekadar momentum.

Airlangga Klaim Ekonomi RI Tangguh, Target 2027 Lebih Berat

Triwulan pertama 2026 memberi Indonesia sedikit ruang untuk bernapas. Ekonomi tumbuh 5,61 persen secara tahunan, ditopang permintaan domestik yang masih kuat, belanja pemerintah yang dipercepat, dan tanda-tanda pemulihan di sektor manufaktur. Bukan angka yang buruk, terutama ketika negara-negara lain terguncang efek domino dari ketidakpastian geopolitik dan perlambatan perdagangan global.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyajikan deretan indikator itu dalam peluncuran laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Jumat (12/6). Inflasi tercatat 3,08 persen, neraca perdagangan surplus 72 bulan beruntun, cadangan devisa 144,9 miliar dolar AS, dan tingkat pengangguran terbuka turun ke 4,68 persen. Dalam setahun terakhir, tambahan lapangan kerja menyentuh sekitar 1,9 juta. Realisasi investasi kuartal pertama tembus Rp498,79 triliun, tumbuh 7,22 persen year on year, menyerap 706.569 tenaga kerja baru.

Angka-angka ini, jujur saja, cukup solid untuk ukuran negara berkembang yang sedang berhadapan dengan badai global. "Pemerintah terus menerapkan kebijakan fiskal yang prudent namun tetap bersifat countercyclical guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Reformasi subsidi juga terus dilanjutkan melalui peningkatan ketepatan sasaran penerima manfaat," kata Airlangga.

Tantangan sesungguhnya bukan di angka hari ini. Target pertumbuhan 2026 dipatok 5,4 persen, masih dalam jangkauan kalau momentum terjaga. Yang bikin sebagian analis mengernyitkan dahi adalah target 2027 di kisaran 5,8 hingga 6,5 persen, bagian dari ambisi besar pemerintah mengejar pertumbuhan 8 persen dalam beberapa tahun mendatang. Lompatan itu tidak kecil. Tekanan eksternalnya pun agaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat.

Pemerintah tidak tinggal diam. Kebijakan retensi devisa hasil ekspor nonmigas 100 persen selama 12 bulan mulai diberlakukan, tujuannya menjaga ketersediaan valas di dalam negeri. Penggunaan Local Currency Transaction diperluas, koordinasi dengan Bank Indonesia dan OJK diperketat guna menjaga kepercayaan pasar. Soal investasi, masuknya perusahaan hyperscaler global dan ekspansi sektor hilirisasi disebut Airlangga sebagai sinyal positif bahwa Indonesia mulai serius memposisikan diri sebagai hub ekonomi digital dan data center regional.

PR perdagangan pun tidak sedikit. Indonesia sedang menggeber sejumlah negosiasi sekaligus: IEU-CEPA dengan Uni Eropa, Indonesia-Kanada CEPA, perjanjian dengan Eurasian Economic Union, Indonesia-Inggris CEPA, proses aksesi ke OECD, hingga negosiasi tarif yang masih alot dengan Amerika Serikat. "Langkah-langkah awal yang cepat membuahkan hasil meliputi penyederhanaan persetujuan impor, standardisasi proses perizinan usaha, dan percepatan proyek investasi strategis," ujar Airlangga soal kinerja Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah yang baru dibentuk.

Semua ini berpacu melawan waktu. Ada pergeseran struktural dalam rantai pasok dunia dan dinamika geopolitik yang bisa mengubah peta perdagangan lebih cepat dari yang diantisipasi. Pertanyaannya bukan apakah fondasi ekonomi Indonesia cukup kuat. Pertanyaannya: apakah reformasi yang dijalankan cukup cepat untuk mengisi celah sebelum momentum domestik mulai tergerus?