RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Antam Siap Naikkan Dividen, Operasional Diklaim Ta...

Finansial

Antam Siap Naikkan Dividen, Operasional Diklaim Tak Terganggu

Direktur Keuangan ANTM bocorkan rencana dividend payout ratio 50% dari laba bersih, sekaligus membuka sinyal kenaikan jika pemegang saham utama meminta lebih.

Pemegang saham PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) agaknya punya alasan untuk tersenyum lebih lebar musim dividen ini.

Dalam konferensi pers kinerja kuartal I-2026, Rabu (29/4), Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Arianto Sabtonugroho Rudjito membuka kartu soal rencana distribusi dividen. Angka yang disebut: dividend payout ratio (DPR) 50% dari laba bersih tahun sebelumnya. "Dalam anggaran kami, pembayaran dividen adalah 50% dari laba bersih tahun sebelumnya," sebut Arianto.

Tapi ceritanya tidak berhenti di situ.

Arianto mengakui bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pemegang saham utama sudah terang-terangan meminta rasio pembayaran yang lebih tinggi. Manajemen, kata dia, tidak akan melawan arus. Berapa pun angka yang diminta, perusahaan diklaim siap memenuhinya tanpa harus mengorbankan rencana pertumbuhan. "Manajemen jelas akan mempersiapkan perusahaan untuk rasio pembayaran dividen apa pun yang diminta oleh pemegang saham utama," tegasnya.

Dan soal kondisi perusahaan kalau DPR didongkrak lebih jauh? Arianto tak gentar. "Berapa pun DPR-nya, kami percaya perusahaan berada pada posisi yang baik, untuk memenuhi permintaan pemegang saham utama sekaligus melanjutkan rencana pertumbuhannya," kata dia.

Bukan sekadar retorika menenangkan investor. ANTM baru saja mengantongi laba bersih Rp3,66 triliun di kuartal I-2026, angka yang oleh sebagian analis disebut fantastis. Dengan basis laba sekuat itu, ruang untuk menggenjot DPR di atas 50% memang tersedia, setidaknya secara hitungan kasar.

Bukan main.

Pertanyaan yang kini menggantung di benak pelaku pasar: seberapa jauh pemegang saham utama, yang notabene pemerintah lewat MIND ID, akan mendorong rasio itu naik? Kalau mengacu tren emiten BUMN lain yang DPR-nya kerap dikerek demi kebutuhan fiskal negara, angka 50% bisa jadi bukan titik akhir.

Investor ritel yang sudah nyangkut di harga atas setidaknya punya satu katalis positif untuk dipegang jelang pengumuman resmi RUPS.