RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Asing Lepas Saham BUMN Besar-besaran, IHSG Justru...

Finansial

Asing Lepas Saham BUMN Besar-besaran, IHSG Justru Menguat

Net sell asing sepekan capai Rp6,08 triliun dan akumulasi YTD tembus Rp78,3 triliun, tapi IHSG malah melesat 7,38 persen ke level 6.007. Senin kemarin, aksi jual kembali berlanjut dengan volume penjualan asing hampir dua kali lipat hari sebelumnya.

Saham-saham BUMN Dilego Asing, Bagaimana Prospeknya Hari Ini?

Sepekan terakhir investor asing membuang saham-saham BUMN perbankan dalam skala yang sulit diabaikan. Pasar domestik justru menyambutnya dengan kenaikan indeks yang tergolong agresif.

IHSG menutup pekan lalu dengan lonjakan 7,38 persen ke level 6.007, zona psikologis yang sempat terasa jauh ketika tekanan jual berlangsung. Padahal di balik reli itu, asing membukukan net sell kumulatif sepekan sebesar Rp6,08 triliun di seluruh papan perdagangan. Akumulasi penjualan bersih asing sejak awal 2026 kini sudah menyentuh Rp78,3 triliun. Bukan angka kecil.

Yang paling dihajar adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Nilai divestasi harian asing di saham ini menyentuh Rp1,92 triliun, setara 31 persen dari total net sell pasar dalam sepekan. Di balik angka itu ada nama-nama besar: Brown Advisory, Principal Global Investors, dan J.P. Morgan Investment Management tercatat melepas kepemilikan.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengikuti di urutan kedua dengan net sell Rp503,29 miliar. UBS Sekuritas melepas Rp511 miliar, JP Morgan Sekuritas menyusul dengan Rp355 miliar. Tapi ada cerita lain di baliknya. CGS Sekuritas dan Macquarie justru masuk mengoleksi BMRI masing-masing senilai Rp495 miliar dan Rp241 miliar. Pasar tidak pernah searah.

Kisah paling dramatis pekan ini agaknya milik PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Aksi jual agresif UBS Sekuritas senilai Rp2,2 triliun sempat menjerumuskan harga ke bawah level Rp5.000, titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Capital Group dan Fidelity tercatat ikut mengurangi kepemilikan. Tekanan itu berbalik jadi peluang bagi investor lain: Macquarie Sekuritas menyerap Rp578,5 miliar dan Verdhana Sekuritas mengamankan Rp432,8 miliar. Hasilnya? BBCA melonjak 17 persen dalam sepekan hingga mendekati kembali Rp6.000 per lembar, dengan net sell neto yang menyusut menjadi hanya Rp412,8 miliar.

Memasuki Senin (15/6), tekanan asing bukannya mereda. Volume penjualan asing melonjak hampir 100 persen dibanding hari bursa sebelumnya, dari 6,82 miliar menjadi 13,11 miliar lembar. Net sell hari itu tercatat 3,35 miliar lembar, berbalik tajam dari posisi net buy 1,46 miliar lembar pada Jumat sebelumnya.

Yang menarik, saham top sell Senin bukan dari perbankan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memimpin dengan net sell 1,89 miliar lembar dalam volume transaksi yang fantastis, hampir 4,45 miliar lembar dilepas asing. PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menyusul dengan net sell masing-masing 357,77 juta dan 302,29 juta lembar.

Di sisi sebaliknya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi saham paling banyak dikoleksi asing pada hari yang sama, dengan net buy 194,19 juta lembar. BMRI, yang sepekan sebelumnya kena tampar jual, kini berbalik posisi dengan net buy 122,67 juta lembar. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pun masuk daftar top buy setelah asing membeli tanpa melepas selembar pun.

Pertanyaannya, berapa lama likuiditas lokal sanggup menjadi penyangga? Ini bukan pertama kali pasar domestik membuktikan daya serapnya terhadap tekanan jual eksternal, dan kalau data ini bisa dipercaya, investor ritel kini tengah bertaruh pada skenario yang familiar buat veteran 2008: beli ketika asing keluar, tunggu saat mereka kembali. Yang belum jelas, di level berapa asing akhirnya berhenti menekan.