Agustus 2026 terasa cukup bersahabat bagi pasar modal Indonesia. IHSG ditutup di level 6.525,48, menguat 4,64 persen dari bulan sebelumnya, ditopang arus masuk modal asing yang tidak main-main: net buy di pasar saham tercatat Rp1,19 triliun sepanjang bulan laporan.
Tapi yang lebih mencolok justru appetite asing di fixed income. Net buy investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) menyentuh Rp15,35 triliun secara bulanan, jauh melampaui posisi saham. Angka itu bak cermin kepercayaan terhadap stabilitas makro Indonesia, di saat ketidakpastian global masih menggelayut.
OJK membaca kondisi ini dengan nada hati-hati tapi positif. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyebut pasar saham dalam negeri melanjutkan arah penguatan pada Agustus 2026, dengan likuiditas yang tetap manageable. Salah satu sinyal konkretnya: rata-rata bid-ask spread menyempit dari 1,33 persen di Juli menjadi 1,17 persen di Agustus. Kecil, tapi bermakna bagi siapapun yang sering trading harian.
Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ikut naik 2,23 persen secara bulanan, ditutup di level 440,04. Pasar obligasi dan saham kompak menguat dalam satu bulan yang sama. Ini tidak selalu terjadi.
Dari sisi basis investor, pertumbuhannya sudah masuk kategori fenomenal, kalau data ini bisa dipercaya. Total investor pasar modal kini mencapai 31,14 juta, bertambah 1,07 juta hanya dalam sebulan, dengan pertumbuhan year-to-date menyentuh 52,9 persen. Lima tahun lalu angkanya masih 7,4 juta. Investor berlipat lebih dari empat kali dalam setengah dekade.
"Jika 5 tahun lalu jumlah investor masih sekitar 7,4 juta, maka hingga saat ini jumlahnya telah mencapai lebih dari 31 juta investor dengan rata-rata investor aktif saham bulanan sebesar 1,4 juta investor," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin dalam pembukaan Public Expose Live 2026, Senin (7/9/2026).
Tapi Saidu tidak sepenuhnya bersukacita. Di balik lonjakan itu ada satu hal yang ia tekankan: kualitas informasi yang sampai ke investor. Semakin besar basis investor ritel, semakin besar pula risiko terpapar informasi yang keliru atau setengah-matang. Bukan tanpa alasan BEI menggelar Public Expose Live sebagai kanal langsung antara manajemen emiten dan publik investor.
Dari sisi penghimpunan dana, korporasi domestik mencatat fundraising sebesar Rp128,8 triliun year-to-date hingga akhir Agustus, dengan 24 rencana penawaran umum masih dalam pipeline. Dana kelolaan reksa dana tercatat di angka Rp652,88 triliun, nyaris flat, meski investor reksa dana membukukan net redemption Rp8,5 triliun. Sebagian pelaku agaknya memilih untuk menepi, entah ambil untung, entah menunggu momentum berikutnya.
Potret Agustus ini gambaran pasar yang sedang pulih, bukan euforia. Modal asing masuk, spread mengecil, IHSG naik. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan? Dengan basis investor ritel yang kian membesar dan literasi yang belum merata, tantangan sesungguhnya bukan soal siapa yang masuk pasar, melainkan siapa yang tahu apa yang sedang mereka lakukan di dalamnya.