RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Bahlil Konfirmasi Impor Minyak Rusia Tahap Pertama...

Ekonomi

Bahlil Konfirmasi Impor Minyak Rusia Tahap Pertama Tuntas, Harga Disebut Bagus

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan impor minyak dari Rusia tahap pertama sudah terealisasi, dilaksanakan langsung oleh pemerintah melalui Lemigas sebagai bagian dari komitmen pembelian 150 juta barel.

Sepekan, perkembangan PFII hingga impor minyak Rusia

Impor minyak Rusia yang sempat jadi perdebatan panjang itu akhirnya bukan sekadar wacana. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa tahap pertama pengiriman sudah dilakukan, dengan harga yang disebutnya "baik", frasa khas Bahlil: singkat, tapi menyisakan pertanyaan.

Konfirmasi ini disampaikan Bahlil usai menghadiri pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition 2026 di Jakarta, Selasa (21/7). Proses impor dikerjakan oleh pemerintah NKRI dan diperintahkan lewat Lemigas, lembaga penelitian di bawah Kementerian ESDM yang kali ini tampaknya mendapat peran lebih operasional dari biasanya. Soal volume detail dan jadwal pengiriman berikutnya, Bahlil belum buka angka.

Konteksnya: Indonesia sebelumnya sudah mengikat komitmen pembelian minyak Rusia sebesar 150 juta barel. Bagi negara yang sebagian besar kebutuhan minyaknya masih bergantung pada impor, diskon harga dari Rusia, yang menjual minyaknya di bawah harga pasar akibat tekanan sanksi Barat, agaknya jadi daya tarik utama. Bukan soal ideologi. Murni kalkulasi ekonomi.

Sepanjang pekan yang sama, Bank Indonesia memutuskan menahan BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Juli 2026. Suku bunga deposit facility tetap 4,75 persen, lending facility 6,5 persen. Pasar sudah mengantisipasi ini, respons pun tidak terlalu dramatis.

Di sisi fiskal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan APBN membukukan defisit Rp196,5 triliun atau 0,76 persen dari PDB per Juni 2026. Jujur saja, masih dalam koridor aman. Purbaya menyebutnya defisit yang "terkendali", dengan pendapatan tumbuh kuat dan belanja dikelola secara terukur. Pertanyaannya: apakah akselerasi belanja semester dua, termasuk realisasi impor energi ini, akan menggeser angka itu secara berarti hingga akhir tahun?

Masih dari kubu Purbaya, Pusat Finansial Internasional Indonesia atau PFII ditargetkan mulai beroperasi tahun 2026 ini, meski regulasi pendukungnya seperti Peraturan Pemerintah belum tuntas disusun. "Kita harapkan peraturan terlaksana 6 bulan," kata Purbaya usai konferensi pers APBN KiTa edisi Juli 2026 di Jakarta. Target ambisius, mengingat mesin birokrasi kita tidak selalu bergerak secepat itu.

Rp170 triliun. Angka yang tidak main-main. Itulah total dana kelolaan yang berpindah tangan setelah Danantara Indonesia, melalui PT Danantara Asset Management, resmi mengambil alih empat manajer investasi BUMN: Mandiri Manajemen Investasi, BRI Manajemen Investasi, BNI Asset Management, dan PNM Investment Management, per Juni 2026. Konsolidasi ini menjadikan Danantara kian dominan di segmen pengelolaan aset institusional, bak gayung bersambut dengan ambisi besar yang sudah lama dibangun, dan bisa jadi mengubah peta persaingan industri reksa dana dalam beberapa tahun ke depan.